Kenapa Orang Tidak Menyalakan Lampu Sein Saat Berbelok

Tidak Menyalakan Lampu Sein
Kredit: Initial D

Opolah~ Perlu ditertawai, perilaku pengendara sepeda motor dan mobil di negeri dongeng cukup buruk. Lebih lagi terkait dengan etika dan tata cara yang benar bagaimana bersikap selayaknya saat di jalan. Sebagai contoh, pengendara sering (pakai banget) tidak menyalakan lampu isyarat atau sein ketika berbelok.

Lampu sein yang disematkan bertujuan untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas dan harus dimiliki oleh semua kendaraan bermotor. Lampu sein secara umum berwarna kuning yang akan menyala dan berkedip-kedip saat dihidupkan.

Perilaku tidak menyalakan lampu sein saat berbelok cukup membahayakan, karena dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Lain halnya jika sudah menyalakan lampu sein, maka kendaraan lain akan menurunkan kecepatan, atau mengubah arah kendaraaan untuk memberi kesempatan berbelok.

Hal tersebut telah diatur pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 112, “Pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.”

Sementara untuk ayat dua dikatakan, “Pengemudi kendaraan yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping, wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat.”

Pada ayat tiga, “Pada persimpangan jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APIL), pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.”

Bila ada pengemudi yang tidak memberikan isyarat ketika akan berbelok, pada Pasal 294 dan 295 dikatakan, “Maka yang bersangkutan tersebut akan dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan dan denda paling banyak Rp 250.000.”

Baca juga: (“Sopan Santun dan Etika Menjadikanmu Manusia“)

Next. Seringkali kita melihat baik di dunia nyata atau dunia maya terjadi sebuah kecelakan yang diakibatkan salah seorang pengendara yang tidak menggunakan lampu seinnya saat belok. Lantas, apa yang mendasari perilaku tersebut?

1. Sepi kok, Ngapain Nyalain Lampu Sein

Sebuh data yang dikeluarkan oleh University of Machigan Transportation Research Institute mengonfirmasi bahwa pengendara bertingkah lebih baik ketika banyak pengendara lain di dekatnya. Dengan kata lain, kalau sepi jadi ngapain mencet tombol sein.

“Jika kamu berada di jalan lokal di lingkungan kamu di mana lalu lintas jauh lebih sedikit, angka orang menggunakan lampu sein jadi jauh lebih sedikit,“ ujar John Sullivan sebagai salah seorang peneliti.

Sebuah statistik menunjukan bahwa banyak kecelakaan tidak terjadi di daerah perumahan atau kawasan padat penduduk, melainkan lebih banyak terjadi dijalanan pedesaan yang relatif lenggang, sehingga tingkat kewaspadaan berkurang.

Sekarang apa yang kamu lakukan saat dirasa tidak banyak pengendara lain di sekitar? Aku yakin bahwa kemasabodoan kamu meningkat dengan drastis dan kamu pasti berpikir, “Lah, ngapain kalau belok harus nyalain sein, nggak ada banyak orang, kok? Emang setan juga peduli kalau aku mau belok, gitu?”

2. Hanya Belok Kanan, kok

Secara logika, belok kiri memang menghasilkan potensi bahaya yang lebih besar. Kamu akan membuat pengendara lain di belakang kamu dan juga pengendara yang berlawanan arah dengan kamu menjadi lebih awas karena kamu akan menyeberang.

Beda cerita lagi jika kamu ingin belok ke kanan. Karena dianggap lebih mudah dan tidak memotong jalan serta tidak menghambat lalu lintas di lawan arah atau sama arah, kamu jarang untuk memberikan sinyal ketika belok kanan.

Mungkin di pikiranmu, “Sah-sah saja kalau mau belok kanan tanpa sein terlebih dahulu, aku juga posisinya sedang di pinggir jalan, kok. Juga daripada pegel mencet tombol sein, lebih baik diemin ajalah, itung-itung hemat aki.”

Hal ini cukup berbahaya dan ngeselin. Bahayanya karena pengendaraan yang berada di belakang akan terkejut karena kamu belok dengan mendadak dan bisa saja terjadi kecelakaan. Ngeselinnya karena kasihan pengendara yang mau nyeberang.

3. Ikut-Ikutan, ah

Ternyata kebiasaan buruk mengemudi itu bisa menjadi perbuatan yang mencemari satu sama lainnya. Misalnya, jika mobil di depan kamu tidak menggunakan lampu seinnya, maka mungkin kamu juga ikut-ikutan tidak menyalakan sein saat belok.

“Penggunaan lamppu sein dari pengemudi yang mengikuti kendaraan lain dengan lampu seinnya sekitar 6 persen lebih tinggi daripada kendaraan dengan pengemudi yang mengikuti kendaraan yang menggunakan lampu sein,” tutur seorang peneliti bernama Faw dari Trinity Western University di Canada.

Misalnya lagi, kamu sama-sama berada satu garis dengan beberapa kendaraan lainnya. Ini bisa diartikan bahwa karena kamu merasa sudah terwakilkan oleh pengendara di depan yang menggunakan lampu sein. Kamu akan memilih untuk langsung berbelok tanpa harus menyalakan lampu sein kembali.

Mungkin penggambaran paling cukup adalah “Follow the Leader”. Ya, harus mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpin (yang terdepan). Jadi kalau yang di depan sudah begitu, tidak perlu repot-repot dan pusing memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

4. Lampu Sein Wasted

Seringkali, alasan kenapa terjadi kecelakan di persimpangan karena lampu sein sudah dinyalakan tetapi tidak kunjung nyala. Hal seperti ini mungkin saja disebabkan oleh salah satu atau beberapa komponen yang tidak bekerja dengan semestinya. Flasher sein, saklar, tegangan aku, dan kabel juga bohlam adalah komponen terpenting pada sein.

Flasher sein berfungsi untuk memberikan jeda kedipan yang membuat sein berkedip. Relay flasher terdapat sirkuit listrik dimana arus listrik akan membuka dan menutup sebuah bidang atau titik sentuh secara bergantian, sehingga sein dapat berkedip.

Perlu diketahui bahwa saklar adalah komponen yang sering kotor di bagian dalam, sehingga tidak ada arus yang diteruskan ke lampu sein. Akibatnya, sein sulit untuk menyala atau bahkan tidak menyala sama sekali.

Tegangan aki kalau tidak maksimal percuma aja semua komponen bekerja dengan baik. Aki yang baik memiliki voltase di atas 12 volt. Bila di bawahnya, bisa dipastikan aki bermasalah dan tidak mampu menyalakan lampu sein.

Kabel dan bohlam juga termasuk komponen yang mudah kotor, dan jika kotor harus segera dibersihkan. Selain itu, terkadang lampu sein bisa saja putus walau kemungkinan rusaknya lama, pastikan juga kabel terhubung dengan benar.

5. Nggak Tahu, Lupa Aja

Lupa menyalakan lampu sein adalah alasan paling banyak digunakan saat terjadi kecelakaan di persimpangan. Entah itu benar atau tidak, jelasnya kalau tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal, maka jawabannya pasti “Lupa”, ya lupa aja.

Lupa bisa saja disebabkan karena otak hanya mengingat informasi penting atau berkesan saja. Tidak semua informasi direkam oleh otak kita sebagai memori. Kamu bisa mengoperasikan gas dan rem, namun mungkin kamu lupa bagaimana cara menyalakan lampu sein karena dianggap tidak penting.

6. Lagi Melamun

Pacar direbut sahabat sendiri, langsung melamun. Banyak utang dan selalu ditagih, langsung melamun. Nggak punya uang buat bayar utang, langsung melamun. Mikirin alur Steins Gate tapi kebablasan dan tidak paham, langsung melamun.

Kecelakaan yang disebabkan melamun itu lucu banget. Melamun merupakan kondisi terdiam atau memandang tidak jelas seperti sedang kehilangan akal sesaat. Orang yang sedang melamun kalau ngapain-ngapain pasti nggak jelas. Biasanya orang yang sedang melamun tatapannya kosong.

Melamun saat berkendara itu merupakan kegiatan yang membahayakan. Cobalah untuk fokus, setidaknya saat sedang di jalan! Dikhawatirkan ketika mau berbelok, kamu tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan sebelumnya.

7. Iseng

Ini perasaanku saja, sih. Saat posisi jalanan yang renggang dan posisiku mau menyeberang. Mungkin karena jalanan terlalu renggang itu, banyak pengendara yang mencoba iseng kepada pengendara lain  yang mau menyeberang dengan cara tidak menyalakan lampu seinnya.

Jadi gini, saat ada kesempatan mau menyeberang, tetapi masih ada satu orang yang sedang berkendara dengan santainya. Karena tidak menyalakan lampu sein, otomatis aku yang sedang mau menyeberang ini menyimpulkan bahwa orang itu mau lurus-lurus saja.

Eh, bukannya lurus seperti yang diperkirakan, tahunya dia malah belok ke arah kita, kan bikin males. Kesempatan untuk menyeberang milikku hilang gara-gara ada orang iseng yang tidak menyalakan lampu seinnya saat belok.

8. Tau ah, Pengen Ditabrak

Yoi, pengen ditabrak aja. Karena banyak pikiran dan baru diputusin pacar serta tidak punya uang, mengendarai kendaraan bermotor pun jadi seenaknya. Lagaknya juga sengaja pengen ditabrak dan pengennya cepet-cepet bertemu menghadap Sang Pencipta.

Mungkin juga karena pengen nyusahin orang yang nabrak. Dengan ilmu ke-playing victim­­-an yang mumpuni, walaupun yang salah dia karena tidak menyalakan lampu sein, bisa saja yang nabrak malah jadi yang salah. Alhasil, yang ditabrak minta ganti rugi berupa uang atau yang lain.

 

Itulah Beberapa Alasan Kenapa Orang Tidak Menyalakan Lampu Seinnya

Refernsi: medcom.id, otomania.gridoto.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *