7 Teori Asal Mula Terbentuknya Bulan

salah satu teori terbentuknya bulan-teori tubrukan besar
Kredit: William Hartmann

Opolah~ Bulan, menjadi satu-satunya satelit alami Bumi hingga saat inni masih menyimpan misteri tentang asal mulanya. Pembahasan mengenai terbentuknya Bulan masih diperdebatkan. Banyak ilmuwan dan filsafat atau bahkan orang awam mencoba menjelaskan bagaimana Bulan terbentuk, namun hanya sebatas teori semata.

Kita bahkan telah berhasil melakukan perjalanan ke Bulan dan menginjakkan kaki (yang nggak percaya pasti korban YouTube) untuk mempelajari struktur bebatuannya. Tetapi, sampai pada pertanyaan bagaimana terbentuknya Bulan, kita masih memiliki sekumpulan teori yang mengambang.

Dari sebagian besar hipotesis omong kosong hingga teori yang berlaku saat ini, para ilmuwan telah memperdebatkan beberapa scenario. Tetapi, tidak ada teori yang dapat menjelaskan terbentuknya Bulan dengan seratus persen akurat. Berikut beberapa teorinya:

1. Teori Tubrukan Besar (Giant Impact/Impact Theory)

Teori tubrukan besar adalah teori paling kuat dan paling diakui yang menjelaskan asal mula terbentuknya Bulan. Teori tubrukan besar menjelaaskan bahwa Bulan terbentuk karena sebuah objek berukuran besar menabrak Bumi yang masih dalam proses pembentukan. Kejadian ini diperkirakan terjadi pada 4,4 miliar tahun lalu.

Objek yang menabrak Bumi ini memiliki ukuran setara dengan planet Mars dan disebut Theia. Nama Theia diambil dari mitologi Yunani yang menyebutkan ibu dari Dewi Bulan. Beberapa menyebut bahwa ukuran Theia 50% lebih besar dari ukuran Bumi saat ini.

Bukti pendukungnya meliputi:

  • Putaran Bumi dan orbit Bulan memiliki orientasi yang sama,
  • Contoh batuan Bulan menunjukan bahwa permukaan Bulan pernah berbentuk cair,
  • Bulan memiliki inti besi yang relative kecil,
  • Kepadatan yang lebih rendah dibandingkan dengan Bumi,
  • Bukti serupa di sistem bintang lain (yang menghasilkan cakram puing),
  • Tubrukan besar konsisten dengan teori terkemuka tentang pembentukan tata surya, dan
  • Rasio isotop stabil yang identik antara batu Bulan dan batu Bumi, menyiratkan asal mula yang sama.

Energi dari dampak tubrukan tersebut diperkirakan dapat memanaskan Bumi yang menghasilkan lautan magma, namun tidak ada bukti diferensi planet yang dihasilkan dari materi yang lebih berat yang tenggelam ke dalam mantel.

Saat ini, tidak ada model sama yang diawali dengan tubrukan besar dan diikuti dengan evolusi puing-puingnya menjadi Bulan. Lalu, saat Bulan kehilangan bagian volatil, mengapa Venus yang juga mengalami tubrukan besar saat proses pembentukannya tidak memiliki Bulan?

Walaupun teori ini dianggap paling kuat, namun ada beberapa pertanyaan yang masih belum bisa dijelaskan, seperti pertanyaan di atas. Sehingga, perlu penyempurnaan dan penelitian lebih lanjut mengenai teori tubrukan besar ini.

Teori tubrukan besar ini ada beberapa versi dan skenario, yaitu:

a. Teori tubrukan besar I: Sisa-sisa Theia yang hancur bersatu membentuk Bulan.

Di skenario pertama dijelaskan bahwa telah terjadi tabrakan dahsyat dari planet seukuran Mars yang disebut Theiaa dengan Bumi. Teori ini mengandaikan bahwa Theia terdiri dari material yang berbeda dan kemungkinan lebih lemah dari Bumi.

Ketika Theia menabrak, Bumi masih tetap utuh. Theia kemudian pecah dan potongan-potongan yang tersisa akhirnya bergabung menjadi Bulan. Menyakinkan sekali, namun sayang teori ini gagal karena Bumi dan Bulan memiliki unsur-unsur seperti silikon dan oksigen dalam konsentrasi yang sama.

b. Teori tubrukan besar II: Dampak Theia menciptakan “Synestia”

Bagaimana jika Theia menabrak Bumi muda dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga kedua benda itu dapat diupkan? Beberapa ilmuwan mengusulkan bahwa awan berputar berbentuk aneh yang disebut Synestia telah tercipta akibat dampak tubrukan ini.

Mereka berpendapat bahwa struktur ini bisa bertindak seperti mangkuk pencampuran yang berbutar dan memadukan unsur-unsur kimia yang ditemukan dalam setiap tubuh secara merata. Seiring waktu, materi di bagian paling luar dari Synestia bergabung ke Bulan dan materi lainnya bergabung ke Bumi.

c. Teori tubrukan besar II: Benturan dua objek yang sama besar

Dalam scenario in, Theia masih menabrak Bumi, tetapi penguapan tidak terjadi dan puing-puing dari dampaknya masih bersatu menjadi Bulan. Perbedananya dari teori ini adalah di dalam materi yang membentuk Theia merupakan benda serupa yang membentuk Bumi.

Kemungkinan Theia dan Bumi terbentuk pada sisi yang berlawanan dari piringan akresi yang sama (materinya tersebar merata). Kemudian sesuatu mengganggu orbit Theia di sekitar Matahari dan menyebabkannya menjauh dari lokasi aslinya, menyebabkan Theia menabrak Bumi.

2. Teori Fisi/Pembelahan

Teori fisi pertama kali di cetuskan pada tahun 1800-an oleh George Darwin (anak dari ahli biologi yang terkenal, Charles Dharwin) dan cukup mendapatkan popularitas. Dia menyatakan bahwa suatu ketika Bumi berputar dengan sangat cepat sehingga ada sebuah bagian dari Bumi terlempar, namun masih terpengaruh gravitasi Bumi sehingga terbentuklah Bulan.

Seorang geologis Australia Otto Ampherer pada 1925 juga berpendapat bahwa munculnya Bulan menyebebkan pergeseran benua. Ia mengatakan bahwa Samudra Pasifik merupakan hasil dari terlemparnya bagian tersebut.

Namun, saat ini kita tahu bahwa kerak lautan yang membentuk Samudra Pasifik ini masih berusiaa relatif muda, sekitar 200 juta tahun atau kurang, dimana Bulan berusia lebih tua karena tidak terdapat mteri kerak lautan di Bulan, namun terdapat materi mantel yang tercipta di dalam proto Bumi pada eon Prakanbrium.

Para ilmuwan sama sekali tidak percaya bahwa Bumi bisa berputar cukup cepat untuk membuang bagian-bagiannya sendiri. Selain itu, sejauh ini tidak ada bukti dari peristiwa pemintalan yang begitu cepat di Bumi atau Bulan telah ditemukan.

3. Teori Kondensasi/Co Formation

Teori kondensasi menyatakan bahwa Bulan terbentuk bersamaan dengan Bumi dari piringan akordeon primordial yang terdiri dari aliran gas, plasma, debu, atau partikel seperti cakram di sekitar objek astronomi yang perlahan-lahan runtuh ke dalam yang mana memantu menjelaskan kesamaan geologis antara Bulan dan Bumi.

Gas dari awan terkondensasi menjadi material dan puing-puing yang ditarik untuk melekat pada salah satu dari dua objek ini. Bumi menarik lebih banyak material dan menambah massanya. Dari dua objek ini, massa Bumi memungkinkan mengembangkn tarikan gravitasi yang dominan, dan Bulan mulai mengorbit Bumi.

Masalah dari teori ini adalah ketidak mampuannya menjelaskan momentum sudut dalam sistem Bumi-Bulan, atau mengapa Bulan memiliki inti besi yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan Buni (25% dari radiusnya, dibandingkan Bumi yang 50% dari radiusnya).

Gaya gravitasi Bumi akan menyevavkan Bulan menjadi bagian planet Bumi, dan bukan satelit alami. Pada akhirnya teori ini ditolak karena mereka telaah terkondemsasi bersama-sama, Bulan dan Bumi akan mempunyai sifat yang mirip, seperti gaya gravitasi, kepadata, inti dalam, dan lain-lain.

4. Teori Penangkapan/Capture

Teori penangkapan menunjukkan bahwa Bulan berasal dari suatu tempat di galaksi Bima Sakti yang benar-benar independen dari Bumi. Teori ini terkenal sampai tahun 1980, beberapa hal yang mendukung model ini meliputi ukuran, orbit dan penguncian pasang surut.

Pada suatu titik saat orbit Bulan berada cukup dekat dengan Bumi, gravitasi Bumi menarik dan “menangkapnya”, kemudian Bulan mulai mengorbit Bumi. Komposisi kimia dari Bumi dan Bulan yang berbeda ini dapat menjelaskan jika terbentuk di tempat lain dalam tata surya.

Meskipun planet lain seperti Mars diperkirakan telah menangkap asteroid kecil (Phobo, Deimos, dan dua lainnya) yang sejak itu dianggap menjadi bulannya secara de facto, para ilmuwan belum menemukan mekanisme di balik bagaimana Bumi bisa menangkap Bulan dan memaksa Bulan untuk bertahan di orbitnya.

Objek yang mendekati Bumi biasanya akan mengakibatkaan tubrukan atau berubahnya lintasan objek. Untuk membenarkan teori ini, diperlukan atmosfer yang sangat luas di Bumi muda, yang mampu memperlambat gerakan Bulan sebelum Bulan tersebut bisa meninggalkan Bumi.

Teori ini juga bisa menjelaskan orbit satelit Jupiter dan Saturnus yang tidak teratur. Namun, teori ini sulit menjelaskan kemiripan rasio isotop oksigen pada Bumi dan Bulan. Seiring berjalannya waktu setelah ditemukan bahwa Bumi dan Bulan secara geologis sama, teori penangkapan tidak terlalu disukai dan mulai ditinggalkan.

Baca juga:

5. Teori Planetesimal

Di awal abad ke-20, seorang ahli astronomi Amerika Forest Ray Moulton beserta ahli geologi Thomas C. Chamberlain mengemukakan teori planetesimal. Teori ini menyebutkan bahwa Matahari tersusun dari gas yang bermassa besar.

Teori planetesimal merupakan salah satu teori yang menjelaskan terbentuknya tata surya, dimana pada suatu waktu tata surya kita hanya diisi oleh Matahari, kemudian sebuah bintang besar melintas dengan kecepatan pada orbit yang sangat dekat dengan Matahari.

Akibatnya, gas dan materi ringan di bagian tepi Matahari dan bintang tersebut menjadi tertarik. Materri yang terlempar mulai menyusut dan membentuk gumpalan-gumpalan yang dinamakan dengan planetesimal. Planetesimal tersebut mendingin dan memadat hingga akhirnya menjadi planet-palnet yang mengorbit Matahari.

Dengan demikian, teori ini juga menjelaskan bahwa Bulan terbentuk dari hasil proses planetesimal. Namun, teori ini lemah karena sulit untuk menjelaskan tentang persamaan geokimia antara Bumi dengan Bulan, serta bagaimana Bulan mengorbit Bumi tidak dapat dijelaskan.

6. Teori Tubrukan Beruntun (Multi-Extraterrestrial Impact Theory)

Teori ini menyatakan bahwa Bumi muda diperkirakan telah dihantam bukan hanya satu objek, tetapi oeleh beberapa objek ekstraterestrial. Setiap tubrukan dianggap telah menciptakan bidang puing yang akhirnya bergabung menjadi moonlet atau bulan kecil.

Kemudian para moonlet bergabung satu sama lain untuk membentuk Bulan. Teori ini unik karena tidak bergantung pada satu penyebab tunggal. Hal ini memungkinkan beberapa peristiwa untuk membentuk Bulan secara bertahap.

Model ini mecatatat bahwa pirirngan material akan terbentuk dalam beberapa jam setiap serangan dan material in akan terkondesasasi menjadi satu moonlet selama beberapa ratus tahun. Ilmuwan Israel mengusulkan teori ini pada awal 2017.

Mereka berpendapat bahwa efek agregat dari bebearapa dampak kecepatan tinggi bisa menghasilkan bahan yang cukup untuk membentuk Bulan. Namun, mereka juga mengatakan bahwa mekanisme yang menjelaskan bagaimana moonlet ini bergabung belum dijelaskan.

7. Teori Terbentuknya Bulan dari Asteroid

Teori ini menyatakan bahwa Bulan pada mulanya merupakan sebuah asteroid yang juga berasal dari tata surya dan berhasil ditangkap oleh Bumi. Tetapi, pada awalnya Bulan hanya memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dan berbentuk tidak karuan dibandingkan dengan sekarang.

Ini terjadi pada setelah rampungnya pembentukan planet di tata surya, yang berarti bahwa Bumi pada saat itu sudah menjadi sebuah planet, tetapi masih banyak sisa-sisa material pembentukan planet pada orbit sekitar Bumi.

Lalu, beberapa material yang relatif sedikit lebih besar dan tidak berhasil di bersihkan oleh Bumi ini kemudian menyatu dan mengorbit Bumi. Karena pada masa itu tata surya belum benar-benar bersih, Bulan juga ikut membersihkah objek di sekitar orbit Bumi.

Juga pada saat itu, tabrakan antar objek masih sering terjadi dan membuat beberapa bagian dari Bumi terpental. Hingga pada akhirnya, setelah memiliki massa yang cukup karena sudah membersihkan objek tersebut, Bulan kemudian berbentuk bulat.

Simak: (Bagaimana Planet Di Tata Surya Terbentuk?)

Tetapi jika diperhatikan, teori ini juga lemah seperti beberapa teori di atas. Teori ini adalah teori terbentuknya Bulan versi Opolah. Ya nggak salah berteori, kan belum ada yang membuktikannya secara pasti. Bagaimana dengan teori buatanmu tentang terbentuknya Bulan? Correct Me If I Wrong (CMIIW).

Mungkin seiring berjalannya waktu, akan ada teori baru yang lebih kuat dan akurat untuk menjelaskan bagaimana terbentuknya Bulan. Atau harus menilik masa lalu tata surya dengan membuat sebuah mesin waktu yang sangat canggih.

 

Siapa Yang Tahu?

Sumber referensi: National Geographic, Wikipedia, NASA

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *