Bagaimana Planet Di Tata Surya Terbentuk?

Bagaimana Planet Di Tata Surya Terbentuk
Kredit: Wikipedia

Opolah~ Tata surya kita memiliki 9 planet, lebih tepatnya 8 planet kerena Pluto sudah tidak dianggap sebuah planet. Planet-planet di tata surya senantiasa menemani Matahari. Tetapi, pernahkah berpikir bagaimana planet di tata surya terbentuk?

Sebenarnya untuk saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana planet di tata surya terbentuk. Teori yang paling masuk akal adalah benda-benda yang sangat kecil saling menggumpal dan tumbuh menjadi lebih besar. Teori ini dikenal sebagai “hipotesis protoplanet”

Teori Protoplanet

Teori protoplanet pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli astronomi asal Jerman bernama Carl Von Weizsaecker pada 1940-an. Kemudian teori hipotesis ini disempurnakan oleh Gerard P. Kuiper pada tahun 1950-an.

Teori ini mengungkapkan bahwa tata surya pada mulanya adalah awan yang sangat luas yang terdiri atas debu, gas hidrogen dan helium. Biasa juga disebut sebagai nebula (seperti nebula Orion yang merupakan nebula paling dikenal dan dapat dilihat di langit malam).

Bagaimana Proses Terbentuknya Planet Di Tata Surya?

proses terbentuknya planet di tata surya

Kredit: BryanGoff / CC BY-SA 4.0

Pada zaman dahulu, sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, di tata surya ini tidak lebih dari kumpulan gas dan debu yang disebut sebagai nebula. Kemudian sesuatu terjadi yang menyebabkan tekanan pada pusat awan tersebut.

Kemungkinan disebabkan oleh supernova yang meledak di dekatnya atau disebabkan oleh bontang yang lewat dan mengubah gravitasi. Apalah dan bagaimanapun penyebabnya, yang jelas awan itu hancur dan menciptakan piringan materi, kata NASA.

Pusat piringan ini menunjukkan peningkatan tekanan yang sangat kuat sehingga atom hidrogen yang mengambang di awan mulai saling bersentukan. Kemudian, menyatu dan memproduksi helium, serta memulai membentuk Matahari.

Ketika Matahri baru mulai terbentuk, Matahari melahap hampir 99% dari materi tersebut yang berada di sekitarnya. Hanya menyisakan 1% dari piringan untuk hal-hal lain, kemudian dari sini proses terbentuknya planet dimulai.

Pada saat itu, tata surya adalah tempat yang sangat berantakan dengan berbagai gas, debu, dan objek lainnya saling bertebangan. Lalu, gravitasi mengambil peran untuk mengumpulkan dan menggabungkan materi tersebut membentuk butiran yang lebih besar.

Proses bergabungnya gas dan debu ini terjadi pada sebuah tabrakan. Proses ini terjadi secara terus meneru sampai butiran debu dan gas di piringan membentuk planetsimal yang biasanya mempunyai ukuran beberapa kilometer.

Proses ini belum sepenuhnya selesai, para planetesimal juga mempunyai hobi menabrak satu sama lain dan saling bergabung. Dari sini, kemudian terbentuklah protoplanet atau embrio planet yang berjumlah ratusan.

Protoplanet tersebut hampir mirip dengan Pluto. Massanya sekitar 1022 sampai 1023 kg dan berdiameter beberapa ribu kilometer. Setelah sekitar 100 Ma mereka juga terlibat tabrakan yang berdampak besar satu sama lain dan menjadi protoplanet yang lebih besar.

Kejadian bagaimana protoplanet saling bertabrakan dan tarik menarik untuk membentuk planet tidak diketahui. Tetapi, diperkirakan bahwa tabrakan awal akan membuat protoplanet generasi pertama. Kemudian, digantikan oleh protoplanet generasi kedua yang lebih besar dengan jumlah lebih sedikit.

Tabrakan selanjutnya menciptakan generasi ketiga yang lebih sedikit lagi dan berukuran lebih besar dari protoplanet sebelumnya. Akhirnya, hanya akan tertinggal sedikit protoplanet dan bertabrakan lagi sampai tersisa beberapa.

Setelah menjadi protoplanet yang lebih masif, otomatis gravitasinya juga menjadi lebih besar. Oleh karenanya, protoplanet memiliki kemampuan untuk menarik lebih banyak debu dan gas yang berada di orbitnya untuk bergabung.

Proses menarik debu dan gas untuk bergabung terus terjadi sampai protoplanet mempunyai massa yang cukup untuk membuat dirinya menjadi bulat. Setelah protoplanet yang mengelilingi Matahari itu sudah membersihkan “sampah” di orbitnya dan berbentuk bulat, terciptalah planet yang kita kenal.

Seiring berjalannya waktu, planet berbatu yang tersisa mendekat Matahari dan planet gas menjauh dari Matahari. Sekitar empat miliar tahun lalu, sebuah peristiwa “Late Heavy Bombardment” mengakibatkan benda-benda kecil terlempar menuju anggota tata surya lain yang lebih besar.

Planet berarti benda langit yang mengelilingi bintang, berbentuk bulat, dan orbitnya sudah tidak ada lagi materi debu dan gas lainnya. Jika benda langit yang berbentuk bulat dan mengelilingi Matahari, tetapi orbitnya masih banyak objek-objek lain, maka benda itu bisa disebut planet kerdil.

Sisa Materi

Awan Oort Tempat Tinggal Komet Opolah

Kredi ESA

Kita sendiri masih bisa melihat sisa-sisa terbentuknya planet di tata surya. Contohnya seperti sabuk asteroid yang terletak diantara Mars dan Jupiter yang kemungkinan akan bersatu menjadi sebuah planet jika gravitasi Jupiter tidak begitu kuat.

Juga membentuk yang namanya Sabuk Kuiper atau Kuiper Belt. Awan Oort atau Oort cloud sendiri juga terbentuk karena sisa-sisa puing yang terlempar. Membuktikan bahwa tidak semua materi itu berhasil bergabung menjadi planet.

Kesimpulan dan Lain-Lain

Planet-planet di tata surya terbentuk dari awan gas dan debu raksasa yang runtuh, kemudian membentuk sebuah planet. Prosesnya tidak secepat memembuat roti. Proses ini menghabiskan waktu sekitar 500 juta tahun.

0

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *