Bagaimana Proses Terjadinya Hujan Meteor?

proses hujan meteor

Opolah~ Meteor adalah penampakan jatuhnya sesuatu yang jatuh dari luar angkasa. Meteor umumnya berasal dari pecahan atau debu komet dan meteorid. Meteor sering disebut sebagai bintang jatuh, padahal bukanlah bintang (sesungguhnya). Lalu, Bagaimana proses terjadinya hujan meteor?

Penambahan kata hujan dalam meteor berarti sesuatu yang jatuh dari atas dalam jumlah yang banyak. Seolah-olah seperti hujan yang turun jika dilihat dari permukaan Bumi. Kemudian, peristiwa ini dinamakan hujan meteor.

Hujan meteor merupakan event luar angkasa yang sangat menakjubkan. Hampir setiap bulan, pasti ada yang namanya fenomena hujan meteor. Tetapi, sayangnya beberapa hujan meteor tidak dapat disaksikan semua bagian Bumi.

Hujan meteor mempunyai nama yang sama dengan radiannya. Radian berarti sebuah titik dimana seperti menjadi pusat terjadinya hujan meteor. Penamaan hujan meteor diambil dari titik radian yang berada pada suatu konstelasi.

Dikarenakan hujan meteor merupakan fenomena langit periodik, hujan meteor dapat diprediksi kapan terjadinya. Tanggal terjadinya hujan meteor hampir sama setiap tahun, tetapi pincak hujan meteor setiap tahun dapat berubah.

Proses Terjadinya Hujan Meteor

Hujan meteor biasanya terjadi karena debu atau pecahan komet. Inti komet terdiri dari es dan kotoran padu. Sehingga ketika komet melewati matahari, maka lama kelamaan komet akan hancur sedikit demi sedikit lalu menghasilkan ekor dan serpihan (debu, pecahan).

Saat komet melakukan perjalanan mengelilingi Matahari, debu akan menyebar sepanjang orbit komet dan menghaslkan debu. Debu yang dihasilkan komet inilah yang kemudian menjadi bahan utama terjadinya hujan meteor.

Jika planet-planet mempunyai orbit yang hampir melingkar, komet mempunyai orbit yang elips dan panjang. Oleh karenanya, kemungkinan terjadinya pertemuan antara orbit komet dengan orbit Bumi sangat memungkinkan.

Hujan meteor terjadi karena Bumi melewati orbit komet. Kita tahu bahwa Bumi mengelilingi (revolusi) Matahari bukan sebaliknya. Ketika Bumi berada pada lintasan komet yang terdapat puing-puing komet, maka dari sini terjadilah hujan meteor.

Debu luar angkasa ini mempunyai kecepatan yang sangat tinggi. Ketika memasuki atmosfer Bumi, kecepatannya bisa mencapai 250.000 kilometer perjam. Gesekan terhadap atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi akan memanaskan debu ini hingga terbakar.

Hampir semua debu komet terbakar dengan suhu sekitar 1.650 derajat Celcius saat memasuki atmosfer Bumi. Debu komet yang mempunyai ukuran sedikit besar akan terbakar lebih lama dan menghasilkan pemandangan meteor yang sangat cantik.

Kemudian debu yang memasuki atmosfer Bumi ini akan terlihat menyala dan dapat dilihat pada malam hari. Sayangnya, tidak semua debu yang memasuki atmosfer Bumi dan menjadi meteor dapat terlihat oleh mata.

Hujan meteor terlihat dalam jumlah banyak dikarenakan banyaknya debu yang terbakar di atmosfer Bumi secara bersamaan. Kemudian kita menyebutnya sebagai puncak hujan meteor. Sebagian besar, debu-debu itu hanya mempunyai ukuran sebesar pasir.

Penejelasan LAPAN

Dikutip dari CNN Indonesia, “hujan meteor disebabkan karena Bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa-sisa suatu komet yang juga mengorbit Matahari,” jelas Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN).

“Puncak kerapatan gugusan debu trsebut terkadang sedikit berubah akibat dinamika orbitnya. Akibatnya puncak hujan meteor kadang sedikit berubah. Pergeseran puncaknya biasanya hanya beberapa jam saja,” imbuhnya.

Daftar Hujan Meteor yang Paling Dikenal

Hujan meteor berhubungan dengan orbit komet tertentu, sehingga pada sekitar waktu yang sama setiap tahun akan terjadi hujan meteor yang sama. Fenomena hujan meteor terjadi di setiap wilayah yang berbeda-beda. Berikut daftar simpelnya:

  1. Hujan meteor Quadrantids. Terjadi pada tanggal 28 Desember sampai 12 Januari dan mencapai puncaknya pada tanggal 3-4 Januari. Dapat diamati di belahan Bumi Utara.
  2. Hujan meteor Lyrids. Terjadi pada tanggal 16 sampai 25 April dan mencapai puncaknya pada tanggal 22-23 April. Dapat diamati di belahan Bumi Selatan dan Utara.
  3. Hujan meteor Eta Aquarids. Terjadi pada tanggal 19 April sampai 28 Mei dan mencapai puncaknya pada tanggal 5-6 Mei. Dapat diamati di belahan Bumi Utara dan Selatan.
  4. Hujan meteor Perseids. Terjadi pada tanggal 17 Juli sampai 24 Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 12-13 Agustus. Dapat diamati di belahan Bumi Utara.
  5. Hujan meteor Draconids. Terjadi pada tanggal 16 sampai 20 Oktober dan mencapai puncaknya pada tanggal 8-9 Oktober. Dapat diamati di bagian Bumi Uara.
  6. Hujan meteor Orionids. Terjadi pada tanggal 2 Oktober sampai 7 November dan mencapai puncaknya pada tanggal 21-22 Oktober. Dapat diamati di bagian Bumi Selatan dan Utara.
  7. Hujan meteor Leonids. Terjadi pada tanggal 6 sampau 30 November dan mencapai puncaknya pada tanggal 17-18 November. Dapat diamati di belahan Bumi Selatan dan Utara.
  8. Hujan meteor Geminids. Terjadi pada tanggak 4 sampai 17 Desember dan mencapai puncaknya pada tanggal 13-14 Desember. Dapat diamati di belahan Bumi Selatan dan Utara.

Itulah beberapa daftar hujan meteor yang umum diamati. Dari daftar di atas, sebenarnya masih banyak hujan meteor lainnya yang dapat diamati. Mungkin daftar lengkapnya dan asal usul hujan meteor tersebut akan dibahas di lain artikel. So, stay tune.

Secara Garis Besar

Sebuah batu luar angkasa yang berpapasan dengan Bumi dan ditarik oleh grafitasi Bumi. Batu tersebut tidak lain adalah serpihan komet. Lalu, batu tersebut terbakar di atmosfer Bumi karena gesekan dan tekanan atmosfer. Kemudian, berubah menjadi menyala dan dapat disaksikan sebagai bintang jatuh.

 

Paham Proses Terjadinya Hujan Meteor?

Tidak Disarankan Meminta Permohonan Kepada Bintang Jatuh (Secara Harfiah Meteor) Karena Itu HANYALAH DEBU BIASA

1+

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *