Pilar Cahaya, Sebuah Fenomena yang Disalahartikan

apa itu pilar cahaya?
Kredit: Wikimedia

Oplolah~ Pada gambar di atas, fenomena apakah tersebut? Bukan komet, fenomena yang ditunjukkan adalah pilar cahaya.  Pilar cahaya atau light pillar adalah fenomena visual alam berupa cahaya, berbentuk seperti struktur pilar yang bersinar mengarah ke atas.

Pilar cahaya merupakan fenomena alam yang diciptakan oleh pantulan cahaya dari kristal es di dekat permukaan yang paralel dari sebuah bidang horizontal. Fenomena ini juga terbentuk akibat awan yang berada di ketinggian (seperti awan cirrostratus atau sirus).

Cahaya dapat berasal dari Matahari, biasanya terjadi saat Matahari terbenam sehingga fenomena ini disebut sebagai pilar Matahari. Pilar cahaya juga bisa disebabkan oleh Bulan atau dari sumber cahaya di Bumi (terrestrial) misalnya lampu jalan.

Ahli meteorologi AccuWeather, David Samuhel, menjelaskan bahwa pilar cahaya bisa terjadi jika kondisi cuaca baik, suhu dingin, tetapi tidak berangin. Ia mengatakan bahwa sumber dari pilar cahaya dapat bersumber dari cahaya apapun.

Kenapa bisa Terjadi Fenomena Pilar Cahaya?

Fenomena pilar cahaya biasanya muncul di daerah dingin, di mana suhu di daerah tersebut suhunya mencapai 10° Celcius. Tetapi untuk beberapa alasan, tidak menutup kemungkinan bahwa fenomena pilar cahaya dapat terjadi di daerah khatulistiwa, seperti Indonesia.

Pilar cahaya termasuk dalam keluarga halo karena disebabkan oleh interaksi cahaya dengan kristal es. Kristal yang menyebabkan terjadinya fenomena pilar cahaya biasanya berbentuk heksagonal yang tipis dan datar.

Setiap kepingan kristal bertindak sebagai cermin kecil yang memantulkan sumber cahaya dan menyebabkan pantulan memanjang secara vertical ke dalam kolom kepingan es yang tersebar di ketinggian yang bervariasi.

Terang dan tingginya pilar cahaya tergantung pada bentuk butiran es yang memantulkannya. Kristal es yang jatuh dari langit bentuknya bermacam-macam. Intinya semakin besar dan banyak jumlah kristal es di atmosfer, semakin jelas pula kenampakan fenomena ini.

Warna dari pilar cahaya tergantung pada posisi sumber cahaya yang menyinarinya. Jika posisi Matahari tinggi, pilar cahaya yang terbentuk berwarna puth atau kuning terang. Namun, jika posisi Matahari cukup rendah, warnanya dominan jingga, emas, atau merah.

Tidak seperti lampu sorot, pilar cahaya secara fisik tidak terlihat di atas atau di bawah sumber cahaya. Kenampakan pilar cahaya sebagai garis vertical merupakan ilusi optik yang disebabkan oleh refleksi kolektif dari kristal es.

Wakil Ketua Bidang Sains Pusat Ilmiah Selatan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Oleg Sepanyan, mengatakan faktor lain terjadi fenomena ini adalah karena kombinasi lampu-lampu kota dan apa yang disebut sebagai “debu es” di udara.

Pilar cahaya dapat dibentuk dari sumber cahaya buatan seperti lampu jalan, lampu mobil, atau sumber cahaya yang kuat. Salah satu pilar cahaya buatan yang paling terkenal adalah “Tribute in Light” New York City di kawasan bekas reruntukan gedung kembar World Trade Center.

Disalahartikan sebagai Fenomena Lain

Entah kenapa, fenomena pilar cahaya muncul di Indonesia dan beberapa negara di Asia tenggara. Kasus yang paling banyak menjadi perbincangan adalah kemunculan pilar cahaya saat hari pertama Ramadhan 2020 di Serang Semut dan di Yogyakarta (10/10/2020) yang bertepatan dengan hujan meteor Draconic.

Karena jarang sekali fenomena pilar cahaya terjadi di Indonesia, fenomena ini sering disalahartikan sebagai fenomena lain. Ada yang bilang itu merupakan lintang kemukus (komet), ada yang bilang meteor, ada yang bilang aurora, dan ada juga yang menyebut itu banaspati.

Untuk meredam mis dan disinformasi itu, mari menyanggahnya secara singkat saja!

Sangat tidak masuk akal jika menyebut pilar cahaya sebagai komet. Alasan yang paling relate adalah kehadiran suatu komet itu dapat diprediksi berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sebelum melintas di dekat Matahari. Kehadiran komet bisa menjadi topik utama berita selama beberapa pekan.

Waktu muncul pilar cahaya tidaklah lama, sedangkan komet dapat muncul selama berhari-hari. Menurut pengalaman pribadi, komet memiliki ekor yang melengkung-menyebar dan warna dari ekornya agak biru-keputihan yang cenderung memudar.

Kedua. Pilar cahaya bukan meteor! Alasannya karena meteor hanya dapat bertahan sekitar 2-4 detik di langit. Menurut pengalaman pribadi juga, meteor sendiri bentuknya seperti titik diikuti ekor api yang semakin mengecil dan meninggalkan jejak asap tipis.

Ketiga. Pilar cahaya nampak seperti aurora, padahal beda jauh. Aurora dipercaya dapat menganggu pancaran gelombang radio, sedangkan pilar cahaya tidak. Aurora yang disiarkan di televisi bentuknya seperti bergelombang-gelombang.

Next. Kalau banaspati sih sudah kelewat mind blowing. Pasalnya banaspati itu bentuknya tidak seperti pilar, tetapi malah seperti bola. Menurut pengalaman pribadi lagi nih, kemunculan banaspati juga relatif singkat dan lebih condong terbang menyamping daripada ke atas atau ke bawah.

 

Ah Leganya…

Catatan: Jujur saja, hatiku tidak tenang jika ada mis dan disinformasi yang berkaitan dengan fenomena astronomi. Seakan ingin bergerak untuk meluruskan hal tersebut.

Referensi: kaskus, wikipedia, id.rbth.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *