Sabuk Asteroid, Pembatas Di Antara Mars dan Jupiter

letak sabuk asteroid
Kredit: nineplanets.org

Opolah~ Planet di tata surya terbagi menjadi dua kategori, yaitu planet dalam dan planet luar. Nah, pembatas dari dua kategori planet tersebut adalah sabuk asteroid. Sabuk asteroid adalah bagian dari tata surya yang terletak di antara orbit planet Mars dan Jupiter.

Di dalam sabuk asteroid dipenuhi oleh berbagai macam objek tidak beraturan yang disebut sebagai asteroid dan juga terdapat planet kerdil. Sabuk asteroid disebut juga sebagai sabuk utama (main belt) untuk memedakan dari konsentrasi planet kerdil lainnya di tata surya, seperti Sabuk Kuiper dan scattered disc.

Sabuk asteroid berfungsi sebagai pembatas antara kategori planet yang berukuran kecil atau dikenal dengan planet dalam (Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars) dengan golongan planet berukuran besar atau planet luar (Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus).

Lebih dari separuh massa dari sabuk utama berasal dari empat objek terbesar, yaitu Ceres, 4 Vesta, 2 Vesta, 2 Pallas, dan 10 Hygiea. Semua objek tersebut memiliki diameter lebih dari 400 km. Sementara Ceres, planet kerdil yang ada di sabuk asteroid memiliki diameter sekitar 950 km.

Sedanngkan sisanya berukuran kecil, bahkan hampir menyerupai partikel debu. Penyebaran objek-objek ini sangat tipis, sehingga kapal ruang angkasa dapat melewatinya dengan selamat. Tetapi, ada tabrakan antara asteroid-asteroid besar yang menghasilkan kumpilan asteroid yang memiliki karakteristik mirip (orbital dan komposisi).

Tabrakan ini juga menghasilkan debu yang membentuk komponen utama cahaya zodiac (zodiacal light). Asteroid di dalam sabuk asteroid dapat dikategorikan berdasarkan spektrumnya, yaitu tiga klompok dasar: karbon (C-type), silikat (S-tipe), dan kaya logam (M-type).

Sabuk Asteroid

Pada abad pertengahan, sabuk asteroid tidak diketahui. Masa itu, asteroid ini pada awlnya dianggap sebagai bongkahan batuan. Sebab zaman dahulu, teknologi untuk melakukan pengamatan benda-benda langit sangatlah terbatas, tidak seperti sekarang ini.

Kepler menyakini jika dimensi setiap orbit planet mempunyai keteraturan yang sesuai dengan 5 bangun ruang platonik. Pada tahun 1619, Kepler menemukan hukum gerak planet dengan melakukan analisis dari hasil pengamatan yang dilakukan Tycho Brahe.

Hukum Kepler ketiga memperlihatkan hubungan antara jarak dan periode orbit planet. Semakin jauh planet dari Matahari, maka periode orbitnya semakin panjang atau semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengitari Matahari.

Selain Kepler, pada tahun 1772, Johan Bode mengumumkan aturan matematika tentang prediksi jarak planet dari Matahari. Sebelumnya pola keteraturan jarak tersebut pertama kali dilakukan oleh David Gregory yang telah diterbitkan dalam The Elements of Astronomy pada 1915.

Pola tersebut diadaptasi oleh Christian Wolf, Johann Elert Bode, dan Johan Daniel Titius. Mereka menciptakan aturan yang dikenal dengan Hukum Bode atau Hukum Titius Bode. Hukum tersebut berupa deret matematika sederharna untuk memprediksi jarak planet-planet dari Matahari.

Tetapi, jarak ini hanya sampai di planet Uranus (ditemukan oleh Wiliam Herschel). Berdasarkan Hukum Titius Bode, jarak planet Uranus yaitu 19,6 AU. Johann Bode menemukan kejanggalan di antara Mars dan Jupiter, sebelumnya juga Kepler menemukan keanehan jarak yang besar dari kedua planet ini.

Hingga akhirnya Bode mengajak para astronom mencari planet yang hilang di antara Mars dan Jupiter pada jarak 2,8 AU. Selain sekelompok astronom eropa, ada Giuseppe Piazzi, Direktur Observatorium Palermo, Italia yang ikut-ikutan melakukan pengamatan dengan aperture 7,5 cm.

Hingga pada 1 Januari 1801, Piazzi menemukan bintang dengan magnitude 8 di rasi Taurus. Yang menarik adalah bintang ini bergerak dengan jarak 0,1 derajat setiap malam. Sehingga Piazzi mengumumkan bahwa benda tersebut bukanlah bintang melainkan komet.

Tetapi, benda yang diduga komet ini punya anomali. Komet tersebut tidak memiliki ekor yang samar dan juga komet tersebut bergerak dengan sangat lambat. Sehingga pada akhirnya, benda tersebut diberi nama Ceres, sang Dewi Kesuburan dari Roma.

Perburuan Sabuk Asteroid

sabuk asteroid nasa

Kredit: NASA

Ceres belum dikategorikan sebagai asteroid atau benda mirip bintang. Ceres pada akhirnya dinyatakan sebagai planet baru. Istilah yang dikemukakan Herschel saat gagal memberi nama planet Uranus yang ia temukan. Uranus adalah nama yang diberikan oleh Johann Bode. Bode juga ingin memberi nama Juno pada Ceres tapi gagal.

Ceres sempat dinyatakan hilang dari peredaran saat berada di balik Matahari. Tetapi, seorang ahli matematika bernama Carl Friedrich Gauss berhasil menghitung orbit Ceres dan memprediksi kehadirannya kembali.

Para astronom Eropa Tengah melakukan pengamatan dalam mencari planet yang hilang, hingga akhirnya menemukan sebuah objek yang berada pada rasi Virgo. Benda tersebut atau planet kecil kedua ditemukan oleh Wilhelm Olbers dan diberi nama Pallas, atau julukan dari dewi Athena Dewi Kebiksanaan dari Yunani.

Penemuan objek tersebut membuat para astronom bertanya-tanya kenapa terdapat 2 planet kecil yang mengorbit di antara obit Mars dan Jupiter. Dugaan awal, keduanya merupakan pecahan dari sebuah planet besar yang hancur karena bencana di dalam planet atau mungkin akibat tabrakan dengan komet.

Bukan hanya Ceres dan Pallas yang ditemukan di antara Mars dan Jupiter. Pada area perpotongan orbit kedua ini, Karl L. Harding menemukan objek ke-3 pada tahun 1804. Objek ini kemudian diberi nama Juno, istri dari Jupiter.

Pada tahun 1807, ditemukan objek ke-4 oleh Wilhelm Olbers di antara Mars dan Jupiter. Kemudian diberi nama Vesta, dewi Romawi yang melindungi Bumi. Setelahnya, tidak ada lagi objek yang ditemukan sampai 40 tahun kemudian.

Hingga pada akhirnya, para astronom mengatakan bahwa area di antara Mars dan Jupiter merupakan area ramai. Setidaknya sudah ditemukan 400 planet kecil (bukan planet) sejak terakhir Vesta di temukan.

Pada 1850, objek langit yang berada di antara planet Mars dan Jupiter disebut dengan asteroid. Menurut para ahli, asteroid adalah materi awal pembentuk tata surya namun gagal dalam membuat planet.

Akhirnya, celah atau gap antara Mars dan Jupiter ini kemudian dikenal dengan sebutan Sabuk Asteroid atau Sabuk Utama.

Pembentukan Sabuk Asteorid

Sekali lagi, sabuk asteroid berada di antara di antara Mars dan Jupiter. Pada zaman awal pembentukan tata surya di mana pada awalnya tata surya berupa bintang dengan piringan batu dan gas yang berada di sekeliling bintang.

Beberapa juta tahun kemudain, planet-planet di tata surya mulai terbentuk. Saat proses pembentukan planet, sabuk asteroid memiliki jumlah asteroid 100 kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlahnya yang sekarang.

Hal ini disebabkan oleh gaya tarik gravitasi yang dimiliki oleh planet Jupiter sangatlah besar. Setelah terbentuk, jarak Jupiter cukup dekat dengan sabuk aasterod. Akibatnya sebagian besar asteroid keluar dari tata surya.

Karena jumlah asteroid di dalam sabuk asteroid berkurang, asteroid-asteroid di dalamnya mempunyai jarak antara satu dengan yang lain. Jarak tersebut yang akan mengurangi efek tabrakan antar asteroid untuk menghasilkan planet sangatlah kecil terjadi.

Fakta Menarik Tentang Sabuk Asteroid

  1. Setidaknya terdapat lebih dari 200 asteroid yang berdiameter lebih dari 100 km.
  2. Asteroid yang berdiameter kurang dari 100 km, berjumlah 700.000 hingga 1,7 juta asteroid yang tersebar di sabuk asteroid.
  3. Objek terbesarnya berasal dari 4 asteroid terbesar yaitu Ceres, Vesta, Pallas, dan Hygia. Ceres menjadi satu-satunya planet kerdil.
  4. Total massa sabuk asteroid diprekdiksi hanya sekitar 4% dari massa Bulan.
  5. Pioneer 10 melakukan misi perjalanan melalui sabuk asteroid pada tahun 1972 dan berhasil melintasinya.
  6. Pioneer 10 tidak tertabrak asteroid-asteroid karena sabuk asteroid bukanlah objek yang padat dan letak asteroidnya menyebar. Sehingga perjalanan antariksa tidak akan mengalami kesulitan.
  7. Asteroid berbahan dasar logam dan batu, semuanya berbentuk tidak beraturan.
  8. Asteroid di sabuk asteroid terbagi menjadi 3 golongan yaitu, tipe C (asteroid karbon), tipe S (asteroid silikat), dan tipe M (asteroid logam).
  9. Gaya gravitasi dapat membuat asteroid keluar dari sabuk asteroid dan mengirimnya ke tata surya bagian dalam.
  10. Asteroid itu mirip dengan komet, tetapi bedanya tidak memiliki koma yang muncul sebagai ekor.
  11. Terkadang sabuk asteroid disebut sebagai sabuk utama, hal ini bertujua untuk membantu membedakan antara kelompok asteroid lain di tata surya.
  12. Sabuk asteroid mempunyai suhu yang sangat dingin, yaitu -73 derajat celcius.

Kesimpulan

Sabuk asteroid berada di antara Mars dan Jupiter, juga merupakan anggota tata surya. Berisi asteroid yang mempunyai ukuran bermacam-macam, mulai dari sebesar debu sampai hampir berdiameter 1.000 km. Sabuk asteroid berasal dari sisa-sisa pembentukan planet atau bisa dibilang produk gagal.

 

Sabuk Asteroid adalah Pemisah “Hubungan”, Seperti Dia Di Antara Aku dan Kamu

Kredit: Space.com, Nineplanets.org

Referensi: Ilmu Georgrafi, Langit Selatan

4+

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *