Sebuah Cerpen Mengenai Bima Sakti

jalur susu bima sakti
Kredit: ESO

Opolah~ Ada banyak planet, bintang, dan berbagai benda langit di luar angkasa yang tidak terhingga jumlahnya. Sebagian besar dari planet, bintang, dan benda langit itu berada di dalam sebuah sistem bintang atau sistem keplanetan. Sedangkan, mereka berada di sistem yang disebut galaksi.

Galaksi merupakan kumpulan dari berbagai macam bintang yang terdiri atas lebih dari satu benda angkasa berukuran besar dan dikelilingi oleh benda angkasa lain yang saling tarik menarik berdasarkan gaya gravitasi secara teratur. Salah satu galaksi itu adalah Bima Sakti.

Bima Sakti (Milky Way) merupakan galaksi yang besar dan di dalamnya terdapat Matahari, sebuah bintang yang menjadi tempat berteduh bagi Bumi. Kita dapat mengamati ribuan bintang yang berada di langit malam dengan mata telanjang dan jumlahnya akan berlipat ganda jika menggunakan teleskop.

Dari Bumi, Bima Sakti tampak pada langit malam yang cerah tanpa awan dan bebas dari polusi cahaya sebagai kabut putih kelabu yang memanjang mengitari busur langit dengan bagain tengahnya terdapat aura gelap.

Kabut putih itu merupakan kumpulan bintang-bintang yang luar biasa banyak dan lebih rapat daripada bagian langit lain serta debu dan gas angkasa yang terperangkap dalam piringan orbit. Kabut putih itu memanjang mengelilingi busur langit melintasi 30 konstelasi bintang.

Bagian yang tampak paling terang dan lebar berada di arah Sagitarius dan Skorpio, dan merupakan arah dari letaknya pusat Bima Sakti. Karena jalur busur langitnya tidak berdekatan dengan garis ekuator langit maupun ekliptika, Bima Sakti teramati dari berbagai sudut Bumi.

Namamu…

Dalam bahasa Indonesia, nama ini diambil dari istilah perbintangan Jawa. Sebutan “Bima Sakti” dalam astronomi orang Jawa diambil dari gambaran tokoh pewayangan, yaitu Bima yang tengah dililit ular naga, sebagaimana dalam lakon “Bima Suci”.

Gambaran pewayangan tersebut dikenal sebagai “Sang Bima Sakti”. Susunan kabut putih yang melintasi angkasa dan diselingi alur hitam di tengahnya yang memberukan kesan pada orang Jawa seperti Bima (kabut putih) yang tengah dililit naga (alur hitam).

Istilah Bima Sakti diberikan oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarna saat beliau berkunjung di Observatorium Bosscha, Lembang. Ketika itu, beliau melihat galaksi kita seperti seekor ular naga yang sedang melilit Bima.

Sementara itu, orang Eropa menyebutnya “Jalur Susu” (misalnya dalam bahasa Inggris Milky Way, dalam bahasa Jerman Milchstrasse, dan dalam bahasa Prancis voie lactée), ini merupakan terjemahan dari bahasa Latin Via Lactea, yang diambil dari bahasa Yunani Γαλαξίας (“Galaxias”) yang berarti “susu”.

Orang Eropa melihatnya sebagai kabut bercahaya putih seperti susu yang membentang pada bola langit. Dalam mitologi Yunani, Milky Way terbentuk setelah dewa Hermes menyusui bayi Heracles (Herkules) di dada Hera (Juno), saat Hera sedang tertidur.

Ketika Hera terbangun, Hera menyingkirkan Heracles dari dadanya dan memercikkan asinya ke angkasa. Dalam versi lain, Athena menipu Hera untuk menyesui Heracles ssecara sukarela, tetapi dia menggigit anunya terlalu keras sehingga dia membuangnya dan menyebabkan susu menyemprot kemana-mana.

Seperti Apa…

seperti apa bima sakti

Kredit: NASA

Bima Sakti terdiri dari wilayah inti berbentuk batang yang dikelilingi oleh cakram gas, debu, dan bintang yang melengkung. Secara garis besar, struktur Bima Sakti terdiri dari pusat galaksi, lengan spiral, halo galaksi, dan korona galaksi.

Baca: (Lengan Spiral Galaksi Bima Sakti) dan (Lubang Hitam di Pusat Galaksi Bima Sakti)

Pada 1960-an, para astronom pertama kali menduga bahwa Bima Sakti adalah galaksi spiral berbatang, bukan galaksi spiral biasa. Kecurigaan mereka dikonfirmasi oleh pengamatan Spitzer Space Telescope pada tahun 2005, yang menunjukan bilah pusat Bima Sakti lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Cakram bintang Bima Sakti berdiameter sekitar 100.000 tahun cahaya (950.000.000.000.000.000 km), diperkirakan mempunyai ketebalan 1.000 tahun cahaya (95.000.000.000.000.000 km). Bima Sakti mempunyai setidaknya 200 miliar bintang dan mungkin hingga 400 miliar bintang.

Jumlah pastinya tergantung dari jumlah bintang bermassa rendah, yang sangat sulit dipastikan. Observasi terakhir mengindikasikan bahwa piringan gas Bima Sakti mempunyai ketebalan sekitar 12.000 tahun cahaya (110.000.000.000.000.000 km), dua belas kali dari sebelumnya.

Diperkirakan massa dari Bima Sakti berkisar antar 700 miliar hingga 2 triliun kali massa Matahari kita. Setidaknya sekitar 85 persen bagian galaksi ini merupakan materi gelap (dark matter) yang tidak mengeluarkan cahaya sehingga tidak mungkin diamati secara langsung.

Studi terbaru melihat seberapa kuat massa galaksi ini yang sangat besar secara gravitasi, dan menyebabkan galaksi yang lebih kecil mengorbitnya. Oleh karenya, massa Bima Sakti telah diperbaharui menjadi 960 miliar massa Matahari.

Cahaya galaksi memancar lebih jauh, tetapi dibatasi oleh orbit dari dua satelit Bima Sakti, yaitu Awan Magellan Besar dan Kecil (the Large and the Small Megallanic Clouds), yang memiliki perigalacticon kurang lebih 180.000 tahun cahaya (1.700.000.000.000.000.000 km).

Perhitungan terakhir oleh teleskop Very Long Baseline Array (VLBA) menunjukkan bahwa ukuran Bima Sakti lebih besar dari yang diketahui sebelumnya. Ukuran Bima Sakti dipercaya mirip seperti tetangga galaksi terdekat, galaksi Andromeda.

VLBA digunakan untuk mengukur geseran daerah formasi bintang-bintang yang terletak jauh ketika Bumi sedang mengorbit di posisi yang berlawanan dari Matahari. Para astronom dapat mengukur jarak dari berbagai daerah tersebut dengan asumsi yang lebih sedikit dari pengukuran sebelumnya.

Kecepatan rotasi Bima Sakti adalah sekitar 792.000 km/jam. Tetapi pengamatan terbaru dan tentunya lebih akurat, menunjukkan bahwa kecepatan galaksi ini sekitar 914.000 km/jam. Hal ini juga menunjukan dark matter yang terkandung di dalam galaksi.

Bima Sakti bergerak pada kecepatan sekitar 1.987.200 km/jam terhadap foton latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB), menuju kenaikan siku-siku 10,2 dan deklanasi -24 derajat. Pergerakan ini diamati oleh satelit Cosmic Background Explorer (COBE) dan Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP).

Di Mana…

grup lokal atau local cluster

Kredit: Wikimedia

Bima Sakti dan Andromeda adalah sistem biner galaksi spiral raksasa yang termasuk dalam 50 galaksi di Grup Lokal (Local Cluster). Grup Lokal atau Local Cluster sendiri berada di Gugus Galaksi Virgo dan dikelilingi oleh Void Lokal.

Diketahui, ada beberapa galaksi katai mengorbit Bima Sakti, yaitu Awan Magellan Besar, Awan Magellan Kecil, Canis Major Dwarf, Galaksi Eliptis Katai Sagitarius, Ursa Minor Dwarf, Scluptor Dwarf, Sextans Dwarf, Fornax Dwarf, dan Leo I Dwarf.

Mungkin masih ada galaksi katai yang belum terdeteksi mengorbit Bima Sakti, hal ini didukung oleh Sembilan satelit baru Bima Sakti yang terdeteksi pada 2015. Ada juga galaksi katai yang telah dimakan oleh Bima Sakti, seperti nenek moyang Omega Centauri.

Pada 2014, para peneliti meleporkan bahwa sebagian besar galaksi satelit Bima Sakti terletak pada piringan yang sangat besar dan mengorbit pada arah yang sama. Menurut kosmologi standar, galaksi satelit seharusnya terbentuk lingkaran cahaya materi gelap, dan mereka harus tersebar luas dan bergerak ke arah acak.

Pada 2006, para peneliti melaporkan bahwa lengkungan yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan di piringan Bima Sakti sekarang telah dipetakan dan ditemukan sebagai riak atau getaran yang dibentuk oleh Awan Magellan Besar dan Kecil saat mereka mengorbit Bima Sakti.

Sebelumnya, kedua galaksi ini mempunyai massa sekitar 2 % dari massa Bima Sakti dan dianggap terlalu kecil untuk mempengaruhi Bima Sakti. Namun, dalam model komputer, pergerakan kedua galaksi ini menciptakan bidang gelap di Bima Sakti.

Pengukuran saat ini menunjukkan bahwa Andromeda mendekati kita dengan kecepatan sekitar 504.000 km/jam. Dalam 3 sampai 4 miliar tahun kedepan, kemungkinan terjadinya tabrakan Andromeda-Bima Sakti sangat mungkin.

Jika mereka bertabrakan, kemungkinan terjadinya tabrakan antar bintang sangatlah rendah. Sebaliknya, kedua galaksi akan bergabung membentuk satu galaksi elips atau mungkin galaksi cakram besar selama sekitar satu miliar tahun.

Masa Lalumu…

Bima Sakti dimulai tak lama setelah ledakan besar, Big Bang. Dalam beberapa miliar tahun sejak kelahiran bintang-bintang pertama, massa Bima Sakti cukuplah besar sehingga ia berputar relatif lebih cepat dari sekarang.

Karena kekekalan momentum sudut, medium antarbintang berbentuk gas runtuh dari bentuk yang kira-kira bulat menjadi cakram. Oleh karena itu, generasi bintang selanjutnya membentuk di piringan spiral ini. Sebagian besar bintang muda, seperti Matahari, berada di piringan ini.

Gugus bola (kumpulan bintang berbentuk bola yang mengorbit inti galaksi) adalah salah satu objek tertua di Bima Sakti. Usia dari masing-masing bintang di Bima Sakti dapat diperkirakan dengan mengukur kelimpahan unsur radioaktif berumur panjang (nukleokosmokronologi) seperti thorium-232 dan uranium-238.

Dengan teknik ini, usia gugus bola M4 diperkirakan 12,7 miliar tahun. Perkirakan usia kelompok tertua ini memberikan perkirakan paling cocok 12,6 miliar tahun. Juga diperikarakan CS 31082-001 memiliki usia sekitar 12,5 miliar tahun dan BD + 17 ° 3248 memiliki usia sekitar 13,8 miliar tahun.

Pada November 2018, para astronom melaporkan penemuan salah satu bintang tertua di alam semesta. Bintang ini berusia sekitar 13,5 miliar tahun, 2MASS J18082002-5104378 B adalah bintang ultara metal-poor (UMP) kecil yang hampir seluruhnya terbuat dari bahan yang dilepaskan dari Big Bang.

Penemuan bintang di Bima Sakti menunjukkan bahwa galaksi mungkin mempunyai umur 3 miliar tahun lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa bintang yang ditemukan di halo Bima Sakti diperkirakan memiliki usia hampir mendekati usia alam semesta, 13,80 miliar tahun.

Pada 2007, sebuah bintang di lingkaran cahaya galaksi, yaitu HE 1523-0901, diperkirakan memiliki usia sekitar 13,2 miliar tahun. Sebagai benda tertua yang diketahui di Bima Sakti pada saat itu, pengukurannya menetapkan batas umur Bima Sakti.

Analisis terbaru terhadap tanda kimia ribuan bintang menunjukkan bahwa pembentukan bintang mungkin telah turun dalam urutan besarnya pada saat pembentukan cakram, 10 hingga 8 miliar tahun lalu. Hal itu terjadi ketika gas antarbintang terlalu panas untuk membentuk bintang baru di tingkat yang sama seperti sebelumnya.

Pada Saat itu…

Aristoteles (384-322 SM) menulis bahwa filsuf Yunani, Anaxagoras dan Democritus mengusulkan Bima Sakti mungkin terdiri dari bintang-bintang yang jauh. Tetapi, Aristoteles sendiri percaya bahwa Bima Sakti disebabkan oleh penyalaan hembusan yang berapi-api dari beberapa bintang yang besar, banyak dan berdekatan.

Fisuf Olumpiodorus Muda (495-570) mengkritik pandangan dari Aristotels, karena jika Bima Sakti bersifat kebumian, maka harus tampak berbeda pada waktu dan tempat di Bumi, juga harus memiliki paralaks. Dalam pandangannya, Bima Sakti adalah angkasa. Ide ini berpengaruh di dunia Islam.

Astronom asal Persia, Abu Ryhan al-Biruni (973-1048) mengusulkan bahwa Bima Sakti adalah kumpulan fragmen yangt tidak terhitung jumlahnya dari sifat samar-samar bintang. Astronom asal Andalusina, Avempace mengusulkan Bima Sakti terdiri dari banyak bintang.

Ibn Qayyim Al-Jawziyya (1292-1350) mengusulkan bahwa Bima Sakti adalah segudang bintang kecil yang berkumpul bersama dalam bulatan bintang dan mengusulkan bahwa bintang-bintang ini mempunyai ukuran yang lebih besar dari planet.

Astronom Persia, Nasir al-Din al-Tus (1201-1274), menulis dalam bukunya yang berjudul Tadhkira, “Bima Sakti adalah galaksi, yang terdiri dari jumlah sangat besar dari kecil, bintang berkerumun, karena konsentrasi dan ukurannya kecil, ada bercak-bercak keruh. Karena itu, warnanya disamakan dengan susu.”

Pada 1610, Galileo Galilei dengan menggunakan teleskopnya menemukan bahwa Bima Sakti terdiri dari sejumlah bintang redup. Galileo berhasil membuktikan bahwa Bima Sakti terdiri dari banyak bintang yang bertebaran.

Pada 1783, upaya pertama untuk menggambarkan bentuk Bima Sakti dan posisi Matahari di dalamnya dilakukan oleh William Harschel. Ia menghitung secara cermat jumlah bintang di berbagai wilayah di langit dan berhasil membuat diagram bentuk Bima Sakti dengan tata surya yang berada di dekat pusat galaksi.

Pada 1775, mengacu karya Thomas Wright, Immanuel Kant berspekulasi bahwa Bima Sakti mungkin merupakan sebuah benda yang berputar dari sejumlah besar bintang, yang disatukan oleh gaya gravitasi mirip dengan tata surya tetapi pada skala yang jauh lebih besar.

Kant menduga bahwa beberapa nebula yang terlihat di langit malam mungkin merupakan sebuah galaksi terpisah dan mirip dengan galaksi kita. Kant menyebut Bima Sakti dan nebula ekstragalakti sebagai “pulau alam semesta”. Istilah ini masih digunakan hingga tahun 1930-an.

Pada 1845, Lord Rosse membangun teleskop baru yang mampu membedakan antara nebula berbentuk elips dan spiral. Ia juga berhasil melihat sumber titik individu di beberapa nebula, memberikan kepercayaan pada dugaan Kant sebelumnya.

Pada 1904, Jacobus Kapteyn mempelajari gerakan dari bintang-bintang. Ia melaporkan bahwa bintang-bintang di langit tidaklah seacak yang diperkirkan sebelumnya, melainkan memiliki sebuah jalur lintasan. Kemudian, data Kapteyn telah menjadi bukti pertama rotasi pada galaksi kita, yang akhirnya mengarah pada penemuan rotasi galaksi oleh Bertil Lindblad dan Jan Oort.

Pada 1917, Heber Curtis berhasil mengamati nebula S Andromedae di dalam Nebula Andromeda Besar (objek Messier 31). Kemudian ia menemukan 11 nebula lagi, Curtis memperhatikan bahwa nebula-nebula ini rata-rata memiliki magnitude 10 kali lebih redup daripada Bima Sakti. Ia menyatakan bahwa nebula spiral adalah galaksi yang independen.

Pada 1920, diadakan debat terbuka bernama Debat Besar (The Great Debate), debat ini dilakukan antara Harlow Shapley dengan Heber Curtis yang mengusung pendapat bahwa nebula-nebula tersebut adalah sistem yang independen.

Harlow dan Curtis memaparkan data pengamatan astronomi yang mendukung hipotesis mereka tentang Bima Sakti, nebula spiral, dan dimensi alam semesta. Untuk mendukung klaim bahwa nebula Andromeda Besar adalah galaksi, Curtis mencatat munculnya jalur gelap yang menyerupai awan debu di Bima Sakti, serta pergeseran Doppler yang signifikan.

Perdebatan ini dapat diselesaikan secara mantap oleh Edwin Hubble pada tahun yang hampir sama. Dengan menggunakan teleskop Hooker observatorium Mount Wilson berukuran 2,5 m, Hubble mampu menghasilkan foto astronomi yang menyelesaikan bagian luar beberapa nebula spiral sebagai kumpulan bintang.

Hubble juga mengidentifikasi beberapa variable Cepheid yang dapat ia gunakan sebagai patokan untuk memperkirakan jarak ke nebula. Ia menemukan bahwa nebula Andromeda berjarak 275.000 persec dari Matahari, jarak ini terlalu jauh untuk menjadi bagian dari Bima Sakti.

Hingga Akhirnya…

Pada 3 sampi 4 miliar tahun kemudian, tabrakan antara Andromeda-Bima Sakti terjadi. Namun, bintang-bintang yang berada di kedua belah pihak tidak akan saling bertabrakan. Ini dikarenakan karena jarak antar bintang sangatlah jauh……

…Tamat…

Sumber: NASA, nineplanets.org, britannica.com, wikipedia.org

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *