Apakah Kamu Mau Menjadi Indonesian Idiot?

apakah kamu mau menjadi indonesian idiot
Kredit: Green Day

Opolah~ Fungsi media massa tentunya sangat penting dalam kehidupan berdemokrasi Indonesia. Dalam iklim demokrasi pada saat ini, media massa adalah Pilar ke-4 demokrasi setelah lembaga Eksekutif (Pemerintahan), Legislatif (DPR/Parlemen), dan Yudikatif (Lembaga Hukum).

Tetapi k enyataannya? Kondisi media massa di Indonesia sungguh memprihatinkan. Pemberitaan Cover Both Side (melihat sudut pandang berita dari dua sisi) sudah tidak begitu diperhatikan. Untuk membedakan mana yang benar dan salah pun kita jadi kesusahan.

Media massa seakan-akan berusaha mengendalikan kita tentang apa yang harus kita yakini dan apa yang harus kita lakukan. Mereka terus-menerus menyuapi pikiran kita dengan berbagai isu-isu yang diangkatnya dan cenderung memihak.

Sebagai contoh, mana ada berita TVRI orde baru yang menjelek-jelekan Soeharto? Mana mungkin MetroTV yang dimiliki Surya Paloh akan menjelek-jelekan Surya Paloh? Mana mungkin juga MNCTV akan menjelek-jelekkan Hary Tanoe sebagai pemiliknya, kan?

Media kadang bisa menutupi beberapa fakta dari keseluruhan fakta, memanipulasi fakta untuk kepentingan tertentu. Misal, di iklan mie instan ada ayam dan daging dinosaurusnya, tetapi pada kenyataannya mie instannya tidak ada daging dinosaurus.

Nah, gara-gara beberapa hal tersebut, kita kadangkala berhasil terpengaruh dan terhasut. Seperti itulah gambaran kehebatan dari media. Media berusaha membohongi kita tanpa sadar dan mereka menjadikan kita seorang yang idiot.

Sebelumnya, idiot adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani idiotes (“orang yang kekurangan kemampuan professional”, “individual”), dan idios (“pribadi”). Tetapi saat ini, idiot tidak lagi digunakan untuk istilah ilmu pengetahuan.

American Idiot ke Indonesian Idiot

Don’t wanna be an Indonesian Idiot

Don’t want a nation under the mass media

Lihatlah bagaimana media massa di Indonesia memulai penguasaan pikiran rakyat. Lihatlah bagaimana para gelandangan, para pecundang, dan para pengemis yang sesungguhnya tidak terlihat dan biasa-biasa saja berhasil disulap oleh media massa menjadi “seseorang”.

Para artis atau selebriti yang gemar hura-hura dan bergonta-ganti pasangan, bahkan memiliki anak di luar nikah, kehadiran mereka malah dielu-elukan. Dengan bantuan media, mereka yang semula termasuk antah-berantah, sekarang menjadi sesosok yang terpandang.

Jangan mau menjadi orang Indonesia yang idiot, jangan mau negara kita dikuasai oleh media massa. Jangan mau terus-terusan dibuat menjadi idiot oleh media massa. Kita harus mengkritisi apa saja yang disampaikan media, dan tidak menelannya mentah mentah.

Kita tidak tahu maksud dan tujuan dari suatu berita yang disampaikan oleh media massa. Mereka menulis suatu berita yang menarik dan juga fantastis, tetapi kadangkala isinya hanya sebuah omong kosong dan juga berita yang berat sebelah.

Can you hear the sound of hysteria?

The subliminal mind f*ck Indonesia

Ketika masyarakat mulai menelan berita mentah-mentah yang disajikan oleh media, maka kemudian muncullah tanggapan atau dukungan dari masyarakat yang menjadi konsumen atas berita disampaikan oleh media massa, yang di mana beberapa di antaranya akan bersikap histeris atau berlebihan.

Suara-suara atau opini yang histeris dari masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh media tersebut merupakan wujud keberhasilan media dalam mencuci otak pembacanya dengan hal-hal yang sifatnya termasuk tabu.

Tabu di sini bisa diartikan sebagai informasi yang berat sebelah, cenderung memihak suatu pihak. Kebenarannya belum jelas tetapi masyarakat sudah digiring untuk percaya bahwa itu pasti benar, tepat, harus dipercaya, dan sebaginya.

Welcome to a new kind of tension

All across the alien nation

Where everything isn’t meant to be okay

Apa yang akan terjadi jika sebagian besar masyarakat telah berhasil dikontrol oleh media? Jawabannya yaitu, akan timbul semacam tensi atau tren baru sebagai akibat dari penggiringan opini yang dilakukan oleh media massa.

Dukungan membabi buta terhadap opini yang disampaikan oleh media massa tanpa peduli benar salahnya. Bagi mereka selaku konsumen media yang awam, asal opini yang sama terus-menerus disuarakan oleh media dan banyak yang mempercayainya, maka opini tersebut mereka anggap sebagai fakta terpecaya.

Pemberitaan mengenai hal yang sama secara terus-menerus mengakibatkan masyarakat percaya sepenuhnya akan opini berdasarkan pemberitaan oleh media massa. Masyarakat seakan tidak mempunyai tempat lagi untuk menyuarakan opininya sendiri.

Tanpa mengindahkan pemberitaan yang masyarakat percaya dari media, bisa saja dampak negatif yang besar sedang menunggu masyarakat. Masyarakat dipaksa untuk tunduk oleh apa yang disuarakan oleh media. Seolah, negara kita berpijak telah menjadi wilayah yang begitu asing bagi kita sendiri.

Televeision dreams of tomorrow

We’re not the ones meat to follow

For that’s enougt to argue

Melalu berbagai sarana (salah satunya televisi), media massa tertentu menggiring opini masyarakat mengenai apa yang seharusnya terjadi pada dunia kelak. Mereka ingin masyarakat menganggap bahwa dunia masa depan versi medialah dunia masa depan yang paling baik dan patut diikuti.

Kita seharusnya tidak peduli ramalan masa depan versi media-media yang bersangkutan. Sekeras apapun media berusaha, opini dari media tidak akan mengubah opini versi kita. Walaupun media massa merupakan Pilar ke-4 demokrasi, media tidak layak untuk menentukan apa yang akan terjadi esok hari.

Well maybe I’m the trash Indonesia

I’m not a part of a redneck agenda

Jangan mudah mengikuti apa-apa yang diberikan oleh media massa. Mari kita berusaha untuk membela diri dari opini yang dihembuskan oleh media yang dirasa agak menyimpang, ya walaupun opini dari media mempunyai banyak pengikutnya.

Tidak peduli kata orang kita seperti apa, yang menjadi fokus adalah tidak mudah terbawa arus suasana yang menyesatkan. Setidaknya jika kita sudah dicap sebagai sampah masyarakat, kita masih mempunyai prinsip sendiri dan memiliki pemikiran kritis.

Now everybody do the propaganda

Sing along to the age of paranoia

Media massa melalui aneka pemberitaannya telah membuat masyarakat merasa panik dan ketakutan. Ketika pemberitaan menyebar, masyarakat yang percaya akan pemberitaan tersebut akan terjebak dalam suatu ketakutan massal.

Akibatnya, masyarakat pun menjadi kesulitan untuk bersikap kritis terhadap suatu berita. Masyarakat menjadi patuh-patuh saja ketika pihak yang diuntungkan dari pemberitaan media tersebut ingin memanfaatkan kepercayaan masyarakat untuk kepentingan pihak.

Pemberitaan-pemberitaan subjektif yang disampaikan oleh media massa menyebar lagi dari mulut ke mulut. Ketika orang sudah mempercayainya, maka ia pada gilirannya akan berupaya untuk membuat orang lain yang berada di sekitarnya ikut percaya.

Kini, sepertinya hampir setiap orang secara langsung dan tidak langsung telah menjadi calo penyebar berita dari media yang bersangkutan. Mereka seakan buta dan tidak peduli dengan isi kebenaran dari berita yang telah mereka sampaikan tersebut.

Bahkan untuk sekarang ini, semua orang dapat melakukan propagandanya sendiri melalui berbagai platform media sosial. Orang-orang dapat menggerakkan pemikiran publik hanya dengan papan ketik dan sebuah foto yang diambil dari satu sisi.

“Janganlah mau menjadi orang yang idiot, satu negara yang telah dikendalikan oleh media, informasi dari media yang bergema di mana-mana telah menimbulkan histeris atau tanggapan berlebih, tidak menelan mentah-mentah dan percaya informasi yang pada dasarnya ditujukan pada mereka yang idiot,” Billie Joe Armstrong di lagunya yang berjudul “American Idiot”.

Yang Diharapkan sih…

Media massa seharusnya menjadi media penyampaian setiap aspirasi masyarakat terhadap pemerintah. Dalam sebuah negara demokrasi seperti Indonesia, media massa memiliki kekuatan melebihi kekuatan dari 1 kavaleri pasukan militer.

“Media yang netral berarti media yang bergerak secara independen, kredibel, dan juga mandiri dalam menjalankan tugas jurnalistiknya sehingga masyarakat tidak tertipu terhadap fakta yang sebenernya terjadi,” kata Okta Prawira mewakili Deputi Bidkor Kominfotur.

Tugas media haruslah sesuai koridornya sebagai penyampai informasi kepada publik yang diharapkan tidak menyeleweng dari fungsinya sebagai agen demokrasi. Fungsi ini memaksa media untuk tidak memelintir berita guna kepentingan pihak.

Sebagai salah satu pilar demokrasi, media harus memiliki tanggung jawab besar, sebab media harus mampu mempertahankan eksistensinya tidak hanya dalam menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, tetapi juga menghormati hak asasi manusia, serta etika dan moral.

Media massa sebagai pilar demokrasi tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga harus mampu membawa perubahan bangsa menjadi lebih baik lagi, bersikap independen dan objektif dalam setiap pemberitaan yang disajikan.

Media massa adalah suatu lembaga independen yang mulia, karena fungsi yang seharusnya bisa menjadi media pendidik yang baik bagi masyarakat, bukan sebalikanya. Media massa harus menjadi jembatan yang baik antara pemerintah dan masyarakat.

Pemberitaan Cover Both Side (melihat sudut pandang berita dari dua sisi) adalah marwah insan media massa yang harus selalu dijaga. Alasannya karena, pemberitaan media massa bisa memengaruhi khalayak publik, baik secara ideologi, politik, maupun budaya.

 

Semoga Kedepannya Media Massa bisa Lebih Baik lagi dalam Setiap Pemberitannya

Juga Jangan Menjadi Indonesian Idiot!

Referensi: polkam.go.id, re-tawon.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *