Kritik Murni untuk Pesepeda yang Sepedaan dengan Ngawur

sepeda-sepedaan atau sepedaan
Kredit: freepik

Opolah~ Selain sebagai alat transportasi, sepedaan merupakan kegiatan berolahraga yang fun. Selain itu juga, sepeda-sepadaan sudah menjadi ajang bergengsi layaknya Nobel. Coba lihat media sosial, kita akan melihat banyak sekali orang yang update story ketika sedang sepedaan.

Sepeda yang digunakan pun beraneka ragam, mulai sepeda jengki yang harganya terjangkau hingga sepeda lipat yang harganya setara dengan mentraktir nasi kucing sekecamatan selama seminggu. Karena ini, kita sekarang dapat tahu status sosial orang hanya dengan melihat sepedanya.

Fenomena sepeda-sepedaan saat ini menjadi trend (ungsum) di negara tercinta kita, Indonesia. Tidak diketahui siapa yang pertama menjadi provokator dan aku tidak tahu di mana fenomena sepeda-sepedaan muncul untuk pertama kalinya.

Fenomena ini sudah menjadi suatu keharusan bagi mereka yang ingin terlihat sehat. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan saat CFD saja, sekarang ini hampir setiap waktu dan tempat pasti melihat orang yang sedang sepeda-sepedaan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun belakangan, masyarakat kita menjadi lebih sedikit “pintar” dalam memilih trend yang berguna. Padahal, biasanya orang-orang kita suka sesuatu yang useless dan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Sepeda-sepedaan mempunyai banyak manfaat positif. Kita dapat bertemu banyak orang di jalan, saling menyapa sekaligus menegur satu sama lain dengan bunyi kring-kring atau lambaian tangan. Berkenalan dengan orang-orang yang katanya sehobi main sepeda.

Manfaat Sepeda-Sepedaan

Hal ini dapat mengurangi beban pikiran kita dan membuat pengalaman baru. Sepeda-sepadaan karena gabut atau malah menambah kegabutan? Walaupun sekedar gabut, kita juga mendapatkan beberapa hal di atas dan tentunya kebugaran.

Sepeda-sepedaan mempunyai manfaat untuk mengurangi rasa stress. Apalagi jika dilakukan bersama-sama dengan teman yang beneran teman. Kita bisa saling bercerita, melihat pemandangan dengan sudut pandang sebagai seorang pesepeda.

Sepedaan dapat melepaskan endorphin, yang pada gilirannya membantu membantu merasa lebih baik. Mungkin setelah sepedaan kita jauh lebih percaya diri dan puas, juga terhindar dari keinginan untuk bunuh diri. Apalagi jika di-update status dan mendapatkan banyak pujian.

Sepedaan membantuk menurunkan kadar lemak tubuh yang mengontrol berat badan. Selain itu, sepedaan akan meningkatkan metabolism dan membentuk otot yang memungkinkan membakar banyak kalori.

Sepeda-sepedaan meningkatkan fungsi keseluruhan tubuh bagian bawah dan memperkuat otot-otot kaki tanpa terlalu menekannya. Terutama bagian paha depan, glutes, paha belakang, dan betis. Memperkuat otot kaki dapat meningkatkan skill “berlari lebih kencang ketika dikejar anjing!”.

Menurut penilitian pada tahun 2019, tetap berspeda dapat mengurangi efek samping dari pengobatan kanker, termasuk kelelahan, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Walaupun demikian, sepedaan bukanlah obat untuk menyembuhkan kanker.

Sepedaan secara teratur adalah cara untuk menghindari gaya hidup yang amburadul. Sepedaan dapat membantu mencegah masalah jantung, seoerti stroke, serangan jantung, dan tekanan darah tinggi. Sepedaan juga dapat mencegah dan mengayuh kondisi diabetes tipe 2.

Sepedaan meningkatkan keseimbangan, koordinasi, dan postur tubuh secara keseluruhan. Keseimbangan cenderung menurun dengan bertambahnya usia. Keseimbangan yang ditingkatkan bermanfaat dalam mencegah jatuh dan patah hati, maksud kami patah tulang.

Sebuah studi menyebutkan selaama bersepda, aliran darah di otak bisa meningkat sekitar 28 persen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa besepeda selama 45 sampai 60 menit empat kali seminggu, bisa membantu memperlancar sirkulasi darah, termasuk ke otak.

Penilitian yang dilakukan Kings Collage London dan Camden Cauncil, menemukan bahwa mengemudi kendaraan bermotor mengalami tingkat polusi lima kali lebih tinggi daripada pengendara sepeda. Dengan polusi berkurang, maka otomatis bisa menyehatkan sistem pernafasan.

Beberapa bagian sendi, seperti sikut, lutuk, pergelangan kaki, dan pergelangan tangan, akan bergerak saat sepedaan. Hal ini bisa membuat kondisi sendi menjadi terlatih dan fleksibel. Pergerakan tubuh juga akan terasa lebih ringan. Sendi sehat, semangat gowes ya!

Penjual Sepeda Bersuka Cita

Siapa bilang hanya pihak pesepeda yang mendapatkan manfaat positif? Jelas tidak ada. Karena satu trend ini membutuhkan alat berupa sepeda, maka jika ingin mengikutinya, harus beli sepeda dulu dong! Masa iya judulnya “Trend Sepeda-Sepedaan” malah memakai becak, kan nggak lucu.

Industri sepeda kini sedang naik daun pisang. Sekretaris Jendaral Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo Utomo menyebutkan bahwa permintaan sepeda pada saat ini melonjak 3-4 kali lipat dibandingkan sebelemunya.

“Kenaikan permintaan ini karena sepedaan menjadi pilhan aktivitas rekreasi. Selain itu, sebagai pilihan sarana transportasi yang dinilai aman, ” katanya saat dihubungi Kompas, Rabu (24/6/2020).

Meskipun mengalami stonk, peningkatan permintaan ini membuat pelaku usaha harus mencari pasokan komponen sepeda dari luar negeri (swasta). Sementara di sisi lain, pandaemi COVID-19 mempengaruhu aktivitas impor dan pengiriman barang.

Permintaan yang awalnya normal, kini tiba-tiba terus meningkat. Para produsen sepeda tidak menyangka kondisi seperti ini terjadi. Padahal, saat ini adalah masa pandemi, dimana kesulitan ekonomi sedang banyak melanda masyarakat.

Tantangan lain yang dihadapi pelaku usaha di bidang sepeda adalah bersaing dengan negara lain, yang permintaan sepedanya di dalam negeri juga meningkat. Bahan baku dan suku cadang dari luar negeri sulit diperoleh karena lonjakan permintaan sepeda terjadi di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.

Meski angka produksi dalam negeri terlihat tinggi, namun sebenarnya kebutuhannya jauh lebih besar dari itu, yakni mencapai 6 juta unit. Namun, produsen dalam negeri tidak kuasa menghadapi impor sepeda dari China.

Saat ini para pelaku usaha di bidang sepeda tampaknya kerepotan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang tiba-tiba melonjak. Tetapi dalam kerepotan mereka, pasti dalam hati juga merasa senang dagangannya laris manis dalam sekejap.

Menurut bapak-bapak di desa, sekarang ini harga sepeda naik dibandingkan sebelum trend sepeda-sepedaan ada. Bukan hanya kondisi baru, yang kondisi setengah pakai juga mengalami peningkatan harga. Yang semula satu buah sepeda harganya 1,8 juta sekarang bisa sampai 2,3 juta.

Apa aku juga ikut-ikutan jualan sepeda dan menaikan harganya secara nggak masuk akal?

Kasus ini hampir mirip sebelas dua belas dengan kasus penimbunan masker dan hand squiliam beberapa waktu lalu. Sekarang masker dan hand squiliam sudah banyak tersedia dan COVID-19 sekarang sudah dienyahkan. Beberapa penimbun sekarang merasakan kerugian yang sangat besar, bahkan ada yang mencapai miliaran.

Ini berarti bahwa jangan jualan saat sedang ada yang viral atau trend saja dan jangan menaikan harga sampai Burj Khalifa, karena usaha seperti ini akan gulung karpet dengan cepat. Mau coba merugi untuk cari pengalaman yang tidak menyenangkan? Silahkan saja.

The Problem Is…

Munculnya isu pajak sepeda yang mencuat pada 26 Juni 2020. Bermula dari pernyataan Direktur Jenderal (Dirjen) Penghubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Budi Setiyadi saat melakukan diskusi virtual.

Dikutip dari antaranews, melalui liputan6.com Budi Setyadi sempat menyinggung pajak sepeda. Pernyataan Budi Setyadi tersebut kemudian menimbulkan dugaan bahwa pemerintah akan mengadakan pajak sepeda.

Isu pajak sepeda terus mencuat, jadi perbincangan masyarakat luas. Akhirnya, pada 30 Juni 2020 Juru Bicaranya Kemenhub menyampaikan klarifikasi terkait isu yang cukup menyita perhatian public ini. Jubir Kemenhub Adita Irawati, menjelaskaan bahwa isu tentang wacana paja sepeda bukanlah hal yang benar.

Kemenhub sebagai otoritas yang mengatur sistem transportasi di Indonesia menanggapi trend sepeda-sepedaan secara responsif. Namun, tanggapan tersebut bukan berkaitan dengan akan diadakannya pajak sepeda.

Let’s think about it! Sebuah negara tidak mungkin membuat suatu keputusan mendadak dikarenakan adanya sesuatu yang viral. Pemerintah membuat peraturan yang memang kebutuhan dan sesuai. Jika sampai pemerintah turun tangan untuk menanggapi hal sepele ini, bisa jadi memang masyarakat kita itu “kurang pintar“ dan butuh bimbingan ekstra dari pemerintah.

Kita buang jauh-jauh isu di atas! Di tengah pandemi COVID-19, aktivitas sepedaan tiba-tiba marak di masyarakat. Di jalanan yang sebelumnya sepi karena adanya pembatasan fisik, kini banyak terlihat warga-warga yang mendadak menjadi pesepeda.

Kegiatan sepeda-sepedaan memang masih aman selama mematuhi protokol kesehatan. Tapi, Kenyataannya? Sebagian pesepeda tidak memakai masker dan malah saling bergerombol. Yah sama saja bohong. PSBB yang selama ini berarti nggak ada gunanya.

Mungkin mereka menganggap sepedaan itu telah membuat tubuh kita kebal terhadap COVID-19. Atau ada hal lain, seperti COVID-19 itu tidak ada dan hanya konspirasi belaka? Nggak masalah berpikiran demikian, tetapi kalau kena COVID-19 jangan minta disembuhin, nyusahin dokter saja!

Nah, hal ini terjadi juga kepada temanku yang saat itu sedang sepeda-sepedaan di Malioboro. Dia tidak memakai masker dan dia memang tidak positif COVID-19. Tetapi sebagai gantinya, dia dicegat oleh polisi dalam waktu yang cukup lama dan dimintai keterangan kenapa tidak memakai masker.

Next. Sepeda-sepedaan itu  mengurangi resiko mati di jalan dibandingkan dengan kendaraan bermotor. Meskipun demikian, tak jarang pengguna sepeda menjadi korban tabrak karena yang menabrak sudah mematuhi tata tertib berlalu lintas.

Sepeda-sepedaan merupakan salah satu cara untuk mengurangi penggunaan karbon dan suara bising yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Menggunakan sepeda adalah pilihan yang bagus untuk opsi transportasi jika ingin berperilaku seenaknya di jalan.

Pengalaman pribadi, hampir setiap melintasi jalan, aku selalu melihat beberapa orang yang sepeda-sepedaan. Nah, sekitar 50 persennya itu adalah para pesepeda yang berjejer dua dan 15 persen dari pesepeda berjejer dua ini memiliki perilaku sepedaan gaya egal-egolan (apa bahasa Indonesianya).

Sebenarnya aku tidak masalah dengan pesepeda yang berjejer dua, yang masalah adalah pesepeda yang berjejer tiga, empat, lima, atau bahkan sampai menutupi jalan layaknya portal berjalan. Apalagi yang sepedaan dengan gaya egal-egolan seenaknya.

Aku yakin, yang berjejer-jejer ini adalah pesepeda yang sedang bercengkrama atau bercanda dengan temannya. Tetapi, ya nggak usah egal-egolan juga kali! Apakah situ tidak bisa sepedaan dan baru belajar sepedaan saat sedang ngetrend doang? Atau hanya iseng biar ditabrak orang dan dapat kompensasi?

Other next. Jika dilihat lebih jelas menggunakan teropong 8 mm, tidak hanya pengendara kendaraan bermotor, pengendara sepeda ternyata sama-sama arogannya saat berada di jalan. Bahkan, ada yang sampai menghalangi kendaraan yang berada di belakangnya.

Ya ya ya, semua orang yang berada di negara demokrasi ini mempunyai hak untuk melakukan apa saja (seperti sepeda-sepedaan), asal tidak mengganggu orang lain dan melanggar hukum. Tetapi, jangan lupakan juga yang namanya etika dan sopan santun.

Pengguna sepeda seharusnya menggunakan otaknya untuk memilih ruas jalan disediakan untuk pesepeda. Tetapi sebagian pesepeda sepertinya buta akan pengetahuan dasar ini, mereka lebih memilih memakan semua ruas jalur.

Hal ini sangatlah membahayakan diri sendiri dan juga orang lain yang “kemungkinan” menabrak mereka. Sudah diklakson oleh pengendara lain agar diberi jalan, tetapi mereka seolah-olah tidak peduli dan kurasa memang mengidap penyakit tuna rungu.

Sepeda-sepedaan yang awalnya terlihat menyehatkan, berubah menjadi sepeda-sepedaan yang terlihat menguasai jalan. Apalagi jika sudah mengikuti suatu kelompok, mereka akan berasa tidak boleh diganggu. Kupikir kominitas itu tempatnya berbagi pengetahuan tentang bagaimana sepeda-sepedaan dengan benar dan berbagi hal positif lainnya.

Mengedepankan ego dan gengsi itu tidak menjamin keselamatan, yang ada malah kecelakaan. Walaupun sudah mengikuti komunitas berskala internasional dan mempunyai sepeda yang harganya luar biasa mahal, bukan berarti dapat sepeda-sepedaan dengan seenaknya. Juga mempunyai sepeda mahal tidak menjamin tidak mencium harumnya aspal.

Banyak kok kejadian yang menunjukkan bahwa pesepeda itu egois dan arogan. Contohnya seperti video di sebuah FP sebut saja bersepdaria. Di salah satu videonya, menunjukan segerombolan pesepeda yang sedang dikawal oleh suatu aparat.

Karena sudah menyewa pengawal, mereka sepeda-sepedaan dengan ngawur. Hal ini hampir menyebabkan tabrakan antar mobil di belakangnya. Bisa dipastikan bahwa, mobil di belakangnya memilih untuk saling menabrak daripada menabrak raja jalanan baru lalu diamuk sekomunitas.

Apakah mereka berpikir bahwa menggunakan sepeda sudah terbebas dari hukum dan mendapatkan kompensasi yang layak karena ditabrak oleh pengguna kendaraan bermotor? Menurut Mr. Incredible, hal tersebut tentu tidak dibenarkan, karena rules is rules (aturan adalah aturan).

Situ nggak malu apa selalu diejek-ejek para netizen yang budiman dan dibuatin meme yang bersifat negatif. Seperti, “Dulu yang paling sering melanggar lalu lintas hanya pengguna motor dan mobil, sekarang malah nambah pengguna sepeda.”

“Orang berpendidikan tinggi kok sepeda-sepedaannya tidak menaati peraturan yang ada dan berperilaku seenaknya, masa iya kalah sama orang yang bekerja di sawah,” begitu kira-kira.

Gini ya, kalau lagi sepeda-sepedaan itu tetap harus tertib beralalu lintas. Memakai benda yang diciptakan Baron Karls Drais von Sauerbronn ini bukan berarti kita sudah innocent  terhadap semua hukum yang bersangkutan dengan lalu lintas (UU Nomor 22 Tahun 2009).

Baiklah jika kalian (para pesepeda) memang dan masih berpikir bahwa sudah kebal semua hukum. Bagaimana jika kalian aku tabrak menggunakan Corolla Ke20? Apakah kalian kebal terhadap patah tulang, lumpuh, atau bahkan immortal?

Soal kompensasi aku tidak peduli. Uang bisa dicari belakangan dan hukum bisa dibeli, ya tidak? Tetapi, kalau sampai lumpuh atau mati kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dokter cuma bilang, “Kita sudah melakukan semampu yang kita bisa,” sambil mencatat urek-urekan.

Aku sebagai penabrak mungkin hanya dipenjara, tetapi kalian mungkin akan lumpuh seumur hidup. Di pengadilan, aku akan menyatakan bahwa aku tidak sengaja menabrak kalian dan aku meminta maaf soal hal tersebut. Uwalhasil, aku akan dipenjara kurang lebih satu tahun lamanya. Yuhuuuu…

Ayolah! Tunjukkan kepada penduduk planet lain bahwa masih ada pesepeda yang tetap mengikuti peraturan yang berlaku. Pada dasarnya sepedaan adalah kegiatan yang terdengar positif. Tidak ada yang ngelarang untuk sepeda-sepedaan, ya daripada hanya rebahan di rumah dan nonton anime bajakan.

 

Tersinggunglah Wahai Pesepeda yang Nyebaiii !

Catatan:

  • Asal copy tak dung tak, gambar dari freepik.com
  • Aku menggunakan kata sepedaan dan sepeda-sepedaan daripada bersepeda atau gowes, karena kegiatan ini bagiku terlihat seperti “kekanak-kanakan”
  • Jika ada kata yang tidak dipahami, mohon maaf
  • Sependapat? Bisa dishare ke musuhmu

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *