Layang-Layang Menggantikan Bintang-Bintang

ini gambar layang layang

Opolah~ Permainan tradisional layang layang kembali digemari oleh masyarakat. Setelah sepeda-sepedaan, bermain layang layang menjadi sebuah hobi yang sedang tren di tengah pandemi COVID-19. Kegiatan ini sudah ada sejak awal musim kemarau masa pandemi.

Sebelumnya, cara kerja dari layang layang hampir sama dengan pesawat terbang. Layang-layang dan pesawat sama-sama menciptakan angin dengan bergerak cepat. Saat menerbangkan layang-layang, ada tiga kekuaatan yang bekerja.

Ada kekuatan dari tali layang-layang, kekuatan angin, dan gaya gravitasi. Kekuatan angin mendorong layang-layang ke atas dan ke belakang. Kekuatan tali mendorong layang-layang ke depan dan ke bawah. Sedangkan, gaya gravitasi menarik layang-layang lurus ke tanah.

Menarik layang-layang ke arah kita dapat menciptakan angin yang dapat memaksa layang-layang kita mundur hingga perlahan-lahan naik. Saat itulah tanda terjadi ekuilibrium, yang berarti dorongan angin dari depan dan belakang sama kuatnya, dan gravitasi juga sama kuatnya dengan angin yang mendorong layangan untuk naik.

Biasanya layang-layang dimainkan pada siang hari, saat Matahari sedang kemetap-metapnya (panas-panasnya). Tetapi untuk penerbangan layang-layang di masa pandemi ini, kebanyakan malah dilakukan saat sore hari menjelang malam hari.

Di sejumlah tempat, terutama di Jalur Lintas Selatan (JLS), banyak dijumpai orang yang sedang bermain layang-layang. Tidak hanya anak-anak saja, puluhan remaja dan orang dewasa juga menerbangkan layangan mereka dengan berbagai bentuk. Bahkan, yang mendominasi adalah para remaja.

Karena JLS di dekat bibir laut, hembusan angin di wilayah tersebut sangat mendukung untuk bermain layang-layang. Hal ini membuat warga dapat menerbangkan layangannya dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Mulai dari layang-layang yang mirip milik Tok Dalang, setan lokal, rasi bintang Crux, bandoso, karakter, celana dalam, dan bahkan ada yang mirip alat kelamin pria. Biasanya layang-layangan tersebut memiliki ukuran 30*50 centimeter hingga 50*100 centimeter.

Untuk menaikkan layangan dengan ukuran tersebut butuh satu orang yang memegang layangan dan satu orang yang memegan tali. Tidak perlu angin yang begitu kencang, sedikit kencang pun sudah cukup untuk membuatnya naik.

Nah, layangan yang berbentuk setan ini memang menakutkan. Warnanya yang putih bersih dan terbang di langit, membuat beberapa orang termasuk aku sempat mengira itu kuntilanak, tetapi kenyataannya itu hanya sebuah layang-layang laknat.

Apalagi yang berbentuk seperti alat kelamin pria. Kalau yang ini tidak ada akhlaknya. Coba bayangkan, jika kamu sedang menikmati senja di sore hari, tetapi malah disuguhi pemandangan kelamin terbang di langit, kan aura indie-nya jadi hilang.

Aku sempat bertanya ke beberapa orang bagaimana cara mereka memperoleh layang-layangnya. Mereka menyebut bahwa layang-layangannya dibuat oleh tangan terampil mereka sendiri. Hal ini cukup membuat takjub dan saat itu juga aku tidak berani meremehkan kreatifitas anak bangsa.

Tetapi, ada juga sih yang terima jadi layang-layangannya dengan cara membeli. Harganya sendiri untuk ukuran sedang sekitar dua pulu lima ribu sampai lima puluh ribu. Itu juga belum paket komplit, tali tampar dan aksesoris lain dijual terpisah.

Yang menjadi pencuri perhatian adalah layang layang yang memiliki bentuk naga. Layang-layang ini yang menjadi alasan para pengendara motor berhenti sejenak di JLS. Bagaimana tidak, panjang ekornya bisa mencapai puluhan meter, sangat mencolok.

Cara menerbangkan layang-layang naga ini cukup sulit. Setidaknya dibutuhkan sepuluh orang untuk memegang ekornya dan lima orang untuk memegang talinya. Juga menerbangkannya harus pas saat angin sedang kencang-kencangnya.

Sudah kusebutkan bahwa menerbangkan layang-layang pada saat ini memang dilakukan saat sore menjelang malam. Hal ini dilakukan karena pada saat sore-malam adalah waktu yang terbaik untuk bermain bagi para remaja dan orang dewasa, yang rata-rata masih sibuk pada pagi hari sampai siang hari.

Sampai lupa, layang-layang tersebut tidak hanya diterbangkan begitu saja. Layang-layang ditambahi dengan lampu kerlap-kelip. Inilah yang membuat layang-layang pada malam hari lebih menarik daripada layang-layang biasa yang diterbangkan pada siang hari.

Biaya pembuatan layang-layang ukuran sedang full set dengan lampu dapat mencapai ratusan ribu rupiah. Dari jarak sekitar 7 kilometer dari lokasi layang layang diterbangkan, kita dapat melihat lampu layang-layang tersebut di langit malam.

Lampu dari layang-layang tersebut ditenagai dengan baterai 18650 (baterai lampu senter atau laptop). Variasi dari warna lampu layang layang bermacam-macam. Merah, kuning, hijau, ungu, dan tujuh warna bidadari lainnya.

Jika penasaran, bisa dicoba pergi ke JLS langsung pada malam minggu. Di sana kamu akan melihat puluhan layang layang yang memakai lampu kerlap-kerlip. Tetapi perlu diingat, selalu mematuhi protokol kesehatan dan harus sabar menghadapi kemacetan.

Apakah hanya di JLS saja? Tentu tidak, coba lihatlah langit malam dan perhatikan daerah di sekitar cakrawala. Orang-orang disekitarmu bisa jadi ikut-ikutan memeriahkan tren layang-layang ini, atau malah kamu yang menjadi pilot dari layang-layang di malam hari?

Mungkin yang mempunyai hobi stargazing atau pengamat langit mempunyai rasa kesal tersendiri. Yang biasanya langit di malam hari dipenuhi dengan cahaya dari taburan bintang-bintang, sekarang sudah tergantikan oleh cahaya buatan dari layang-layang.

JLS juga menjadi tempat stargazing yang lumayan. Saat tren bermain layang layang belum ada, JLS merupakan tempat yang termasuk bebas dari polusi cahaya. Sehingga, kita bisa melihat banyak sekali bintang, sampai dapat melihat “kabut halus” galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang.

Bisa disimpulkan bahwa untuk sementara ini, pamor cahaya dari bintang-bintang sedang kalah saingnya dengan benda ciptaan manusia ini. Bintang-bintang di langit sudah tercampur aduk dengan lampu layang-layang.

Entah ya, rasanya seperti dibohongi. Pada saat belum tahu adanya tren bermain layang-layang, aku mengira layang layang di langit malam itu adalah Starlink, komet, dan bahkan mengira kalau itu UFO. Sedikit kesal sih, karena tidak seperti yang dibayangkan.

Baca juga: (Kata Anjay Dilarang, Apa sih Motivasi dari Masalah ini?)

 

Layang-Bintang

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *