Media Massa Lebih Heboh dari Peristiwa

media massa lebih heboh dari peristiwa
Kredit: online.alvernia.edu

Akhir-akhir ini media massa dihebohkan dengan berita tentang peristiwa yang begitu bla bla bla. Berita ini benar-benar heboh, dan mendapatkan respon beragam dari kalangan netizen yang bersemayam di 6°LU-11°LS dan 95°BT-141°BT.

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan ketele-telean pada paragraf di atas. Saat permasalahan baru muncul, entah itu yang sifatnya penting atau tidak penting sama sekali, biasanya akan banyak media yang memburu berita-berita terbaru agar tidak ketinggalan info.

Sekarang lupakan suara-suara sumilir angin yang terus memrovokasi masyarakat lewat isu kebangkitan PKI. Lupakan juga soal kasus pembunuhan Munir. Masalah besar saat ini bukan lagi soal bahaya PKI atau bahaya orde baru, tetapi bahaya kehebohan media massa.

Media massa yang diharapkan mampu mendidik dan merubah keadaan sosial, tidak bisa lagi kita harapkan profesionalitasnya. Media massa sekarang ini sepertinya sudah mengalami kerusakan, mereka hanya meliput berdasarkan kepada kehebohan saja.

Media massa pada saat ini lebih santer memberitakan hal yang berkaitan dengan sempak dinar cendi, janda bolong, COVID-19, artis-artis annoy, tutorial merangsang pasangan, klepon, kata anjay, dan masih banyak lagi hal lainnya yang lebih nggak jelas.

Sebenarnya banyak juga kok berita yang jauh lebih berguna dan bermanfaat, tetapi tentu saja hanya sedikit yang meliputnya. Kenyataannya, kita malah disuguhkan berita soal mahalnya tanaman janda bolong dan kancut seorang artis.

Di luar sana banyak dari kita yang mudah terbawa arus. Jika kebanyakan yang disorot adalah hal nggak jelas, aku sepakat bahwa Indonesia akan sulit untuk maju atau menjadi negara yang akan selamanya stuck dijulukan “berkembang”.

Seandainya media massa menyiarkan sesuatu yang baik-baik saja, pasti akan membuat masyarakat di negara ini menjadi optimis untuk maju. Tidak terlalu sering menyiarkan hal bergunaless, tetapi mempublikasikan sesuatu yang punya nilai baik.

Kalau setiap hari yang tersiar dan tergambar dari permasalah publik itu tidak penting, masyarakat bisa saja menjadi semakin bobrok. Pertanyaannya adalah kenapa media melakukan hal yang nggak guna? Yang bisa menjelaskan dengan baik hal tersebut adalah teori Agenda Setting.

Agenda Setting

Pada artikel pertama, di trilogi “Media Massa”, pengertian tentang Agenda Setting sempat disinggung sedikit. Profesor Jurnalisme Maxwell McCombs dan Donald Shaw menjelaskan bahwa peran Agenda Setting adalah kemampuan media massa untuk memengaruhi topik yang dianggap penting dalam agenda publik.

Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang penting.

Jika media massa menganggap suatu isu itu penting, maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali.

Kedua ilmuwan ini juga menekankan bahwa bukan berarti mereka menuduh media selalu dengan sengaja memengaruhi masyarakat dengan informasi dan berita yang disampaikan melalui media serta memiliki tujuan tertentu.

Media massa memberi tahu hal dan isu apa saja yang harus dipikirkan. Masyarakat luas cenderung menilai bahwa apa-apa yang disampaikan melalui media massa adalah hal yang memang layak untuk dijadikan isu bersama dan menjadi cakupan ranah publik.

Agenda Media dan Agenda Publik

Agenda media adalah semakin utama posisi penyampaian dan panjang durasi informasi yang disampaikan, semakin penting pula kedudukan informasi tersebut, informasi yang dianggap penting oleh media akan disampaikan dengan terus-terusan.

Sedangkan agenda publik berarti isu publik paling penting yang pengukurannya berdasarkan pada survai opini publik. Agenda publik berfokus pada apa yang dipertimpbangkan oleh setiap orang menganai key issue dari suatu hal atau isu, apa yang melekat di benak orang tentang isu tertentu.

McCombs dan Shaw menyatakan bahwa agenda media lah yang memengaruhi terbentuknya agenda publik, dan dibuktikan dengan adanya korelasi kuat antara apa yang disampaikan media dan pengaruhnya pada pandangan publik.

Pada awalnya, teori ini bermula dari penelitian mereka tentang pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1968. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara isi media dengan persepsi pemilih.

McCombs dan Shaw pertama-tama melihat agenda media. Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh pemberitaan media tersebut. Mereka melihat posisi pemberitaan dan panjangnya berita sebagai faktor yang ditonjolkan oleh redaksi.

Untuk surat kabar, headline atau judul pada halaman depan, tiga kolom di berita halaman dalam, serta editorial, dilihat sebagai bukti yang cukup kuat bahwa hal tersebut menjadi fokus utama surat kabar tersebut.

Dalam majalah, fokus utama terlihat dari bahassan utama majalah tersebut. Sementara dalam berita telivisi dapat dilihat dari tayangan spot berita pertama hingga berita ketiga, dan biasanya disertai dengan sesi tanya jawab atau dialog setelah sesi pemberitaan.

Sedangkan dalam mengukur agenda publik, McCombs dan Shaw melihat dari isu apa yang didapatkan dari kampanye tersebut. Temuannya adalah, ternyata ada kesamaan antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik, dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa.

Orang-orang yang terkena terpaan agenda media adalah mereka yang memiliki kebutuhan tinggi akan orientasi dan penasaran akan hal-hal yang terjad dalam masyarakat. Tingkat kebutuhan orientasi dan rasa penasaran ini terbentuk dari tingginya ubungan dan ketidakpastian individu terhadap isu terkait.

Misalnya sebagai orang yang menyukai dunia teknologi smartphone, orang tersebut akan lebih mudah terpengaruhi informasi media mengenai perkembangan teknologi smartphone terkini atau tren smartphone yang sedang terjadi.

McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi Agenda Setting media massa bertanggung jawab terhadap semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat.

Agenda Setters

Kita tahu bahwa berita tidak dapat menulis beritanya sendiri. Oleh karenanya, dibutuhkan “siapa” yang menentukan agenda media dan menyampaikan informasi berdasarkan agenda. “Siapa “ tersebut adalah agenda setters.

Ada beberapa pendapat mengenai siapa yang berkuasa dan memiliki kekuatan untuk menjadi agenda setters. Gatekeepers memiliki peluang yang besar untuk menentulan agenda karena berita yang akan disampaikan masyarakat pasti melalui mereka dulu dan disaring.

Yang di dalamnya terdapat pemimpin redaksi, redaktur, editor, hingga jurnalis. Mereka bisa menentukan dan membentuk berita apa yang disampaikan pada masyarakat dan apa yang tidak, sehingga menjadi praktik agenda setting.

Para ahli berpendapat bahwa politisi yang memiliki peran sebagai penentu agenda bagi agenda setters. Politisi memiliki kepentingan yang menyangkut citra dan masyarakat sehingga memungkinkan untuk membentuk agenda setting.

Selain itu, PR atau humas professional juga dianggap memiliki peranan membentuk agenda setting. Tugas dari PR adalah membentuk, mempertahankan citra, dan juga sangat memungkinkan untuk menentukan agenda setting.

Contoh Kasus Agenda Setting

Sebagai contoh di Indonesia, masifnya pemberitaan isu tentang kancut seorang artis yang harganya mencapai puluhan juta jelas menjadi agenda utama pemberitaan media beberapa pekan terakhir. Kancut ini, sempak ini, pakaian dalam itu, serentak menjadi sajian utama media mainstream dalam setiap program berita.

Tetapi benarkah masifnya pemberitaan ini benar-benar menjadi kebutuhan publik? Hal ini sepintas merupakan sesuatu yang normal mengingat kebutuhan informasi masyarakat terkait perkembangan lelang kancut cukup tinggi. Hahaha.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa media memengaruhi pola pikir masyarakat, termasuk terhadap apa yang dianggap penting dan tidak. Informasi yang diangkat dalam media membuat masyarakat menganggap bahwa itu adalah hal yang penting dan layak untuk diperhatikan.

Ada dua faktor yang memengaruhinya, yaitu relevansi; menyangkut seberapa relavan isu yang dibawa media bagi kehidupannya, dan ketidakpastian; yang menyangkut ketidakpastian posisi khalayak dalam isu yang tengah dibicarakan.

Kesimpulan

McCombs dan Shaw menegaskan kembali tentang Agenda Setting, “the media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it” (McCombs, 1997).

Denis McQuail (2000: 426), “process by which the relative attention given to items or issues in news coverage infulences the rank order of public awareness of issues and attribution of significance. As an extension, effects on public policy may occur.”

Media dapat membuat apa yang sebelumnya tidak begitu terlihat menjadi sorotan publik, baik itu hal yang memang benar-benar penting atau yang memang benar-benar tidak berguna. Mamakku pernah berkata, “walaupun hanya artis yang sedang berak, media massa dapat membuatnya menjadi ‘sesuatu’ yang heboh dan dipandang publik.” Ya begitulah.

 

Media oh Media

Referensi: online.alvernia.edu, pakarkomunikasi.com, fuad.iainpare.ac.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *