Media Massa sebagai Alat Propaganda yang Sempurna

media massa sebagai alat propaganda

Opolah~ Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio, televisi (Cangara, 2002). Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan kebutuhan masyarakat. Media massa digunakan untuk mencari informasi dan digunakan untuk mengaktualisasikan diri dengan mencurahkan segala minat dan bakat.

Media massa juga digunakan sebagai alternatif meningkatakan popularitas dan kredibilitas seseorang, sehingga pada akhirnya seseorang yang menggunakan media menjadi sesosok yang terkenal dan menjadi perbincangan di masyarakat.

Media massa memiliki peran yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat kontemprorer. Para pengkaji sosiologi media menunjukan bagaimana masyarakat memiliki ketergantungan pada media massa untuk memperoleh informasi tentang apa yang terjadi.

Masyarakat dengan tingkat ekonomi yang relatif rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi. Alasannya karena pilihan media untuk kelas bawah yang terbatas.

Sedangkan, masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses ke banyak media massa. Dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu, mereka punya kekuasaan untuk bertanya langsung pada sumber atau ahli.

Peran dari media massa dijalankan sedemikian rupa sehingga terbentuk sikap manja masyarakat pada media. Realita yang disajikan oleh media massa adalah yang sebenarnya terjadi. Kalau tidak ada di media, berarti tidak akan masuk ke agenda publik, sebagaimana dikatakan teori Agenda Setting.

Agenda Setting berarti menciptakan public awareness (kesadaran masyarakat) dengan menekankan sebuah isu yang dianggap paling penting untuk dilihat, didengar, dibaca, dan dipercaya di media massa. Sebagai contoh misalnya tim redaksi Liputan*.

Mereka memilih dan menekankan satu isu yang dianggap paling penting, misal tentang COVID-19. Apabila satu media memberitakan tentang isu COVID-19, biasanya semua media akan ikut memberitakannya, dan itu semua adalah bagian dari Agenda Setting.

Media massa memiliki kekuatan besar untuk menggiring masyarakat ke sebuah wacana dan memengaruhi mereka untuk mengikutinya. Dengan kekuatan besar, media massa berkembang menjadi alat bagi kelompok-kelompok tertentu untuk menguntungkan kepentingannya.

Media massa adalah alat propaganda yang sempurna.

Dikutip dari Wikipedia, propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masayarakat, sedangkan orang yang melakukan propaganda disebut propagandis. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara objektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar, membaca, atau melihat.

Propaganda merupakan usaha dengan sengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Tujuannya untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu.

Propaganda secara umum lebih mudah disusupkan pada orang-orang dominan melankolis dan sanguinis, daripada orang-orang plegmatis dan koleris. Juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan maupun wawasan seseorang.

Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional.

Sebagai komunikasi satu ke banyak orang, propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya. Namun menurut Jecques Ellul, komunikator dalam propaganda sebenarnya merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya.

Komunikator dalam propaganda adalah seorang yang ahli dalam teknik penguasaan atau kontrol sosial. Dengan berbagai macam teknis, setiap penguasa atau yang bercita-cita menjadi penguasa harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial.

Komunikan sendiri adalah penerima pesan atau penerima informasi tersebut. Jika ingin propagandanya berhasil, maka pemilihan sarana atau media haruslah tepat, sesuai, dan serasi dengan situasi dari komunikan yang dituju.

Politik propaganda yang menentukan isi dan tujuan yang hendak dicapai haruslah efektif. Teknik yang seefektif mungkin dapat memberikan pengaruh secepatnya dan mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator. Berikut beberapa teknik yang sering digunakan:

  • Name-Calling

Propagandis menyentuh simbol-simbol emosional kepada seseorang atau sebuah negara. Targetnya diharapkan merespon sesuai yang dikehendaki propagandis tanpa perlu memeriksa lagi atau mencari bukti-bukti. Dengan kata lain, propagandis melancarkan semacam stereotipe pada sasarannya.

  • Glittlering Generality

Teknik ini mirip dengan Name-Calling, namun digunakan untuk melukiskan sebuah gagasan bukannya individu. Istilah “dunia bebas” adalah generalitas favorit propagandis barat. Sedangkan “solidaritas sosialis” dipakai dunia komunis untuk menggambarkan hubungan antara negara dan partai komunis. Sedangkan, “jiwa Afrika” diharapkan mencipta citra kekuatan dan persatuan.

  • Transfer

Propagandis berusaha mengidentifikasikan sebuah gagasan, pribadi, negara, atau kebijakkan dengan hal lain untuk membuat sasaran propaganda setuju atau tidak setuju. Salah satu caranya adalah membangkitkan kebencian rakyat beragama terhadap komunis.

  • Plain Folks

Propagandis sadar bahwa masalah mereka terhambat jika mereka tampak di mata audiensya sebagai “orang asing”. Oleh karena itu, meereka berusaha mengidentifikasikan sedekat mungkin dengan nilai dan gaya hidup saasaran propaganda dengan menggunakan slang, aksen, dan idiom lokal.

  • Testimonial

Propagandis mengggunakan pribadi atau lembaga yang dapat dipercaya mendukung atau mengritik sebuah gagasan. Variasi dari propaganda ini adalah mengkaitkannya dengan yang memiliki kekuasaan dimana sasaran propaganda akan mencapai sesuatu karena sesuatu yang memiliki otoritas mengatakan hal itu.

  • Selection

Hampir semua propagandis memiliki ketergantungan pada seleksi fakta, meskipun jarang sangat spesifik dalam isi faktanya. Ketika presentasi rinci diberikan, propagandis menggunakan fakta-fakta yang tersedia untuk membuktikan sasaran yang telah ditentukannya.

  • Bandwagon

Teknik ini memainkan perasaan masyarakat. Teknik ini mirip dengan testimonial, namun masalah yang menjadi cara untuk menarik perhatian masyarakat. Misalnya propaganda sering menggunakan ungkapan “seluruh dunia tahu bahwa….” atau “semua rakyat mengakui bahwa….”

  • Frustration Scapegoat

Salah satu cara mudah untuk menciptakan kebencian dengan cara menciptakan kambing hitam. Salah satu contoh populernya adalah mitos yang diciptakan Hitler bahwa masalah dalam negeri dan luar negeri Jerman disebabkan yahudi.

  • Fear

Kesadaran dapat bangkit dan sikap berubah manakala masyarakat dibuat sadar akan hambatan atau ancaman terdekat terhadap hidup dan kesejahteraan mereka. Misal, ancaman nuklir digunakan untuk mendorong pengawasan dan pelucutan persenjataan.

Selanjutnya

Stephen Crane (1895) menyatakan bahwa media adalah “sebuah pasar, dimana kebijaksanaan bebas dijual, ia adalah permainan, juga bisa membuat kematian”. Maksudnya, surat kabar bukanlah sebuah kebenaran. Ia hanya bergantung pada perspektif.

Cerita-cerita bisa saja memiliki dasar fakta yang kuat, namun juga seringkali hanya hasil rekayasa yang dilakukan untuk membanting setirkan pola pikir masyarakat. Mereka menanamkan cerita yang diselewengkan oleh framing-nya.

Gambaran dunia yang ditampilkan oleh media-media menjadi sedemikian bias dan membuka keterpesonaan masyarakat. Keterpesonaan yang ditanamkan ke tengah masyarakat adalah sebuah kepasifan, ketertundukan pada otoritas, kurangnya perhatian pada orang lain, dan ketakutan pada musuh.

Penyajian berita dan informasi adalah propaganda yang kadangkala tidak disadari. Dengan Agenda Setting, media massa melakukan setting berita untuk diwacanakan, yang akhirnya memengaruhi masyarakat, dan dengan mudah masyarakat mengikuti atau menyetujui apa yang disampaikan dalam media massa.

Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas menjadi permasalannnya. Propaganda yang tak berimbang tentunya berkaitan dengan kepentingan-kepentingan yang berkenaan pada berbagai hal, di antaranya:

  1. Pengaruh Politik

Mereka yang ingin memengaruhi keyakinan politik masyarakat, bisa dengan mudah memanfaatkan media massa. Entah itu yang menjatuhkan figure atau tokoh-tokoh tertentu atau yang berusaha menaikan pamor tokoh-tokoh tertentu.

Sebagai gambaran, ketika Pemilu berlangsung para pencalon dengan menggunakan media berusaha mempromosikan dirinya melalui partai yang menggendongnya. Dengan begitu, mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapatkan simpati masyarakat sehingga banyak yang mencoblosnya.

Kemudian untuk memeroleh suara yang banyak, tidak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda. Menggunakan cara-cara yang licik nan picik dengan menghasut atau mengadu domba. Semacam “lempar tai sembunyi tangan”.

Opini publik dalam psikologi komunikasi sering dianggap mengambil porsi terhadap penyerapan pengaruh politik. Penayangan-penayangan dengan komunikasi politik yang kuat bisa dilakukan dengan harapan, pengaruh tersebut dapat diserap oleh berbagai level masyarakat.

  1. Pengaruh Kebijakan

Hampir sama dengan pengaruh politik, kebijakan tertentu yang akan dicetuskan oleh pemerintah juga bisa menjadi bentuk propaganda. Penggunaan media massa dilakukan sebagai langkah yang dinilai paling efektif dalam memberikan pengaruh.

Walaupun akan terjadi pro dan kontra, namun setidaknya propaganda tersebut akkan tetap bisa diterima banyak pihak. Sebagai contoh, ketika media massa dipergunakan pemerintah Amerika Serikat dalam mempropagandakan perang.

Pada dasarnya masyarakat AS menentang dengan keras peperangan yang diusung pemerintah, namun media AS memberikan propaganda bahwa peperangan adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk menghasilkan kedamaian.

Melalui propaganda seperti ini, pola pemikiran masyarakat di sana pun ikut berubah dan mendukung peperangan. Bahkan, tidak sedikit yang rela menyumbang untuk kepentingan tersebut terlepas dengan menggunakan berbagai teknik yang ada pada propaganda.

  1. Penyebaran Doktrin

Penyebaran doktrin merupakan salah satu bentuk propaganda yang sifatnya cukup agresif. Sekelompok orang akan berusaha mencapai tujuannya dengan cara menyebarkan doktrin dengan intensif sehingga mampu memengaruhi orang-orang.

Sebagai contoh, cap Islam sebagai teroris. Propaganda yang sering dilancarkan media pada dewasa ini mengenai pemberitaan Islam dan teroris. Islam dan teroris seolah-olah telah menjadi satu paket yang terus diliput media, terutama media barat.

Setiap kejadian terorisme, tanpa menunggu penyelidikan terlebih dahulu, media-media tersebut akan langsung meliputnya dengan tajuk anti Islam. Oleh karenanya, terjadilah opini publik yang mengartikan Islam sebagai agama yang keras, bengal, dan barbar yang menghasilkan partisipan terorisme belaka.

Begitu pula dengan berbagai informasi mengenai apa yang didakwakan sebagai jaringan terorisme Islam dan tokoh-tokohnya yang hadir ke permukaan dengan pola serupa: melibatkan informasi yang datang dari sumber intelijen, atau sumber yang tak mau disebutkan namanya, diiringi denegan ilustrasi, ditambah pernyataan resmi pemerintah yang juga bersifat simplitis.

  1. Iklan

Iklan bisa masuk ke dalam bentuk komunikasi persuasif. Iklan juga sebenarnya menjadi bagian dari propaganda. Ada nilai pengaruh tertentu yang ingin dicapai dengan adanya iklan tertentu supaya masyarakat bisa menggunakan produk tersebut.

Media-media massa berada di bawah kekuasaan pebisnis dan konglomerat papan atas. Selain sebagai penyebar informasi, media tidak bisa terlepas dari kepentingan ekonomi pemiliknya. Kepemilikan menjadi standar legitim untuk memanfaatkan sejumlah kelebihan media.

Pusat-pusat kekuasaan media ini bekerja seperti korporasi lainnya. Ia terlibat dalam program jual dan beli dalam pasar bebas. Di sini, konteks pasar diidentikan dengan para pengiklan yang membutuhkan cakupan luas dari jangkauan media.

Mereka mendanai pekerjaan media yang mempromosikan konten dari para pengiklan. Sementara produknya adalah audiens. Audiens inilah yang pada akhirnya mengonsumsi suguhan media. Dampak yang dihasilkan dari keterpaparan ini bukanlah hal yang sederhana, pengaruhnya terhadap sikap dan pemahaman audiens jauh lebih kompleks.

Kesimpulan

Tak berlebihan jika menyebut teknologi paling menakutkan hari ini adalah media massa. Media massa memiliki pengaruh yang besar dalam mengarahkan opini publik dan informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat.

Sebuah propaganda dibungkus dengan wadah yang begitu cantik, tetapi tetap saja memiliki kandungan racun di dalamnya. Untuk meminimalisir racun tersebut, kita perlu mengembangkan wawasan kita, jangan hanya sekedar baca tanpa menyaring.

 

Ngeri juga!

Referensi: kompasiana.com, wikipedia.org, binus.ac.id, pakarkomunikasi.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *