Menghujat dengan Sedikit Tata Krama

menghujat dengan sedikit tata krama opolah

Opolah~ Menghujat adalah hal yang menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang mempunyai beban hidup sebesar Jupiter. Secara garis besar, menghujat biasanya diselingi dengan kata-kata kasar. Pernyataan menghujat dengan sedikit tata krama, agak tidak masuk akal.

Menurut Richard Stephens, berkata kasar bisa membuat seseorang merasa lebih baik ketika sedang sakit. Lumayan bermanfaat menghujat itu, meski menyakiti perasaan seseorang.

Menghujat dan mengkritik itu sangat beda jauh. Kritik diberikan agar orang yang di tuju dapat memperbaiki kesalahannya. Hujat hanya bersifat menghina tidak ada pesan moralnya.

Perilaku saling melemparkan hujatan sering kali kita temukan di media sosial, gim, dan real life. Sangat common ditemukan di setiap sudut ruang dan waktu.

Bahkan, kita sendiri yang kadang menjadi pelaku saling hujat. Memang, menghujat itu sudah menjadi atribut sekaligus method dalam kehidupan kita.

Boleh-boleh saja saling menghujat itu, kan dosa ditanggung pemenang. Tetapi, apakah orang yang kita hujat itu memang pantas mendapatkannya?

Memilih target hujat yang pantas itu sangat penting dan wajib. Target harus memenuhi kualifikasi hujatable, jangan asal menghujat tanpa alasan yang jelas.

Di media sosial target hujatan harus memenuhi syarat seperti: terlihat bodoh, menebar hoax, tidak tahu malu, memang ingin dihujat, atau sejenisnya. Di dunia gim, target harus seorang player noob, beban, bacot doang, atau asal main.

Sedangkan jika di kehidupan nyata, syarat target terserah kalian saja. Seumpama target tidak terima dihujat dan kita tidak puas hanya dengan menghujat, sebaiknya langsung melayangkan kepalan tangan di wajah target.

Dari sekian banyak dimensi, menghujat di dimensi real life lah yang sangat dianjurkan para pakar baku hantam. Alasannya sangat jelas, karena lebih memuaskan dan melegakan.

Menghujat itu langsung menjurus ke orang yang kita tuju dan sudah terklarifikasi hujatable. Tidak ada salahnya menggunakkan kata-kata kasar yang disensor lumba-lumba.

Asal jangan sampai menggunakkan bahan agama, suku, budaya, ras, dan orang tua. Sagiri yang tidak salah apa-apa pun kena getahnya.

Like: “Agama kamu itu piip, dasar anak piip, Sagiri lonT, dan sebangsanya”. Ya asu emang, kalau ada yang menggunakkan bahan tersebut. Rasanya inginku headshot menggunakkan AWM.

Menghujat dengan membawa hal-hal yang tidak memiliki hubungan sama sekali adalah tindakan yang tidak epic dan tidak cool dalam history of ma life. Sama sekali tidak mencerminkan kesalahan orang yang kita hujat.

Cukup menjadi musuh satu orang daripada menjadi musuh suatu kelompok. Apalagi jika kelompok itu sangat tersinggung, bisa-bisa langsung busted.

Jika kalian memang pintar, sebaiknya hindari menghujat dengan bahan seperti di atas. Efeknya jauh lebih mengerikan daripada mendapat kiriman bom panci.

Setiap orang yang kita hujat mempunyai sikap tersendiri dalam menghadapi hujatan yang ditujukan kepadanya. Ada yang langsung bertumbuk, membalas dengan sportif, mendiamkan saja, nangis sama emak, dan yang paling menjijikan adalah bundir.

Ada juga yang dihujat sedikit langsung lapor polisi. Lembek amat, kek lemper baru matang masih panas pula. Biasanya pelaku asal lapor adalah orang baper tingkat dewa.

Itu juga bukan sepenuhnya kesalahan penghujat. Menahan diri untuk tidak menghujat itu sangat susah, jadi jangan sesungai-sungai memancing hawa menghujat.

Siapa suruh melakukan sesuatu yang membuat dirinya dalam posisi mau dihujat. Sesudah dihujat terus playing victim, kan bab*.

Nah, orang yang membalas dengan sportif adalah golongan paling kukasih respect. Mereka adalah orang-orang yang bisa dibilang peka.

Jika hujatan kita dibalas dengan kata-kata yang sangat baik dan mengaku bahwa dia salah, maka kita harus menghormatinya sebagai orang yang berpantat tebal. Sudahi saja hujatan kita, lalu meminta maaf kepadanya.

Sedangkan jika dibalas balik menghujat, maka kita juga harus menghormatinya sebagai lawan yang sangat worthy. Dengan catatan, tidak membawa bahan yang sebaiknya tidak diperlukan.

Jujur, aku sendiri sangat senang menggunakkan dan menerima hujatan seperti: “Lu as*, g*blok, kalau main yang bener dong bab*, bod*h kok diumbar, etc”. Sangat mantap dan sangat terlihat uwaw.

Tentu saja, menggunakkan kata-kata kasar itu sangat kasar. Setidaknya, itu langsung jleb ngena di dada tanpa melibatkan hal-hal lainnya.

Mau depresi, sakit hati, atau biasa saja, itu semua bukan masalah kita. Masalah ini adalah seratus persen milik target hujatan kita.

Untuk masalah ini, kita seharusnya tidak perlu repot-repot memikirkan perasaan orang yang kita hujat. Itu tidak penting untuk keberlangsungan hidup kita.

Yang menjadi masalah adalah siapa orang yang menjadi lawan hujat kita. Apakah orang itu pemimpin Korut, John Wick, atau penulis Death Note?

Kita tidak tahu apa yang terjadi jika salah satu orang di atas menjadi lawan hujat. Risiko paling kecil adalah mati dengan lembut.

 

Sudahkah anda menghujat dengan sedikit tata krama hari ini?

7+

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *