Selalu Terserang Kaum Mendang-Mending

kaum mendang-mending

Opolah~ Memendang-mendingkan sesuatu dengan sesuatu orang lain barangkali sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan setiap orang. Saking lumrahnya, sikap ini sulit dihentikan. Padahal secara alam bawah sadar, sikap tersebut bisa menimbulkan rasa iri dengan kehidupan orang lain. Contohnya seperti Kasus 1 dan Kasus 2 di bawah ini:

Kasus 1

Wah, Redmi sudah meluncurkan Redmi Note 20 Pro Max Plus pada 31 Juni di China. Kata orang-orang di komunitas, ponsel ini akan dijual secara global delapan minggu setelah peluncuran di rumahnya sendiri.

Ponsel ini berhasil menarik perhatianku, karena harganya tergolong murah, yaitu hanya 25 juta rupiah. Ponsel ini dibekali kamera 1000 MP, zoom sampai Adromeda, JentikaNaga 899++, dan baterai sudah pakai plutonium.

Sepertinya aku harus mengumpulkan uang dulu untuk membeli ponsel impianku itu. Mungkin aku akan menambah jam kerja sebagai pemulung. Mindset-ku adalah asalkan halal dan tidak merugikan orang lain, kenapa tidak? Pffftttt.

Siang menjadi siang, malam menjadi siang, semua pekerjaan kulakukan dengan berat hati. Setelah dirasa uang yang kukumpulkan sudah cukup, aku kembali menganggur seperti sedia kala. Ini juga termasuk mindset-ku, ya!

Beberapa waktu kemudian, aku pergi ke gerai ponsel terdekat untuk membeli ponsel impian. Tetapi saat di gerai, ternyata harganya sama dengan yang diiklankan, bedanya ada mbak-mbak cantik yang jika tidak dibeli dia akan pasang muka kawaii. Tanpa basa-basi, aku membeli ponsel tersebut secara cash.

Sepulang dari gerai, aku memamerkan Redmi Note 20 Pro Max Plus kepada semua orang yang sedang lewat depan rumah. “Nih lihat, hp-ku baru, lho! Bukan uang dari merengek ke orang tua, tetapi hasil kerja kerasku sendiri.”

“Wow, bagus sekali, aku jadi pengen beli es krim dinding,” orang lewat kode 001.

“Aku pikir aku menyukai kamu. Apakah kamu mau menjadi darling-ku?” orang lewat kode 002.

“Jadi iri aku, tapi aku tidak iri juga sih,” orang lewat kode 003.

“Internalnya besar sekali! Lumayan lah buat anu,” orang lewat kode 004.

“Uang segitu mending di tabung buat modal nikah,” orang lewat kode 005.

“25 juta? Mending buat modal ternak lele,” orang lewat kode 005.

Setelah puas memamerkan di dunia nyata, aku kembali menyombongkan ponselku ke media sosial. Entah itu di komunitas atau di berandaku sendiri yang mempunyai friend list lebih dari lima ribu, dan kurasa setengahnya sudah mati.

“Mending beli Redmi Note 20 Pro Max Plus Ultra yang desainnya lebih bagus. Hanya nambah 10 jutaan,” FL A.

“Nambah 5 juta lagi dapat Realmi 100 Max yang layarnya lebih besar,” FL B.

“Duit segitu mending buat beli Advan Luar Angkasa yang kameranya dapat mendeteksi lubang hitam,” FL C.

“25 juta mending digunakan untuk naik haji (mungkin), daripada beli hp,” FL K1.

“Bro, uangmu mending disumbangkan saja, lumayan jadi modal ke surga,” FL K2.

“25 juta mending buat beli tanah 4 meter persegi, tuh,” FL D.

“Kenapa buat beli gituan, mending buat modal usaha,” FL E.

Kenapa ya tanggapannya tidak relate sama sekali? Uang-uang milikku kok situ pada mendang-mending. Mending inilah mending itulah, lah situ siapa kok ngatur? Aku niatnya cuma sombong, bukan pengen dapat ceramah.

Kasus 2

Menggunakan ponsel itu berasa sedang naik ke puncak rantai makanan, tetapi setelah beberapa bulan, Redmi Note 20 Pro Max Plus yang kubeli ternyata palsu. Aku pun menangis sambil gulung-gulung, berpikir bahwa mbak-mbak gerai dan kesombonganku adalah penyebabnya.

Karena aku rasa masalahku ini cukup berat, aku curhat sana-sini sembari mencari jawaban siapa dalang di balik pembunuhan Muuu. Aku juga meminta maaf kepada orang-orang yang pernah atau tidak pernah mendengar kesombonganku.

Awal-awal, banyak yang mendiamkanku dan langsung memaklumi keadaanku. Masalahku ini memang benar-benar berat. Buktinya aku rugi waktu, tenaga, uang, dan apalagi? Tetapi selang beberapa lama, aku mendapat respon yang begini:

“Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud ya sudahlah,” FL BP.

“Yayaya, mampus, salah siapa sombong?” FL A.

“Yang sabar ya, masalahmu belum seberapa dengan masalahku,” FL B.

“Makanya mending disumbangin ke fakir miskin, bukan?” FL KD1.

Darling….,” orang lewat kode 002.

“Masalah segitu sih kecil, aku baru saja ditipu 100 juta lebih,” FL D.

“Mending kamu, lah aku baru saja diputusin,” FL C.

“Aku baru kehilangan uang juga, tapi masalahmu masih mending,” FL A.

“Mending kamu mati saja daripada ngeluh terus!” FL G.

“Masih mending lah daripada masalahku,” FL I.

“Masih mending kamu, temanku kemarin malah beli Redmi Note 20 Pro Max Plus Ultra palsu,” FL Y.

“Kamu tidak merasakan betapa susahnya diriku ini, kehilangan uang 25 juta bukan hal yang seberapa,” FL J.

“Mendang-mending kamu,” FL Z.

Lah, the fu*k. Kenapa juga masih pada bilang mendang-mending? Aku tidak peduli, mau kamu yang lebih mending atau aku yang lebih mending. Aku hanya minta dihujat agar aku sadar bahwa menjadi orang sombong itu merugikan diri sendiri.

Mendang-Mending

Lantas, mengapa sih orang-orang suka sekali memendang-mendingkan? Alasan paling sederhana adalah seseorang cenderung mencari kepastian “sesuatu” yang diajukan lebih baik dibandingkan apa yang akan atau dimiliki orang lain.

Di sama sisi, ucapan macam itu jadi seperti kompetisi. Singkatnya, mereka nggak mau kalah capek sama orang lain, juga orang lain nggak berhak untuk bersikap sombong dan mengeluh. Padahal kita semua juga butuh kedua sikap tersebut.

Lagipula, jika menang kompetisi tersebut bakalan dapat hadiah? Secara tersurat tidak, tetapi secara tersirat mungkin dapat hadiah “Kesenangan Tersendiri”. Selain itu, belum tentu orang yang sedang buka-bukaan soal kemalangan atau kesombongan minta diceramahi mendang-mending.

Ok. Mungkin yang lagi menyombongkan diri memang lagi butuh orang lain yang sama-sama sombongnya. Kalau yang ini kurasa tidak masalah, karena mereka sedang berada di fase krisis moral dan butuh pengakuan dari semuanya.

Jika sikap seperti itu diimbangi dengan keinginan untuk menjadi yang terbaik sih nggak masalah. Sayang, kebanyakan orang hanya lebih suka memendang-mendingkan tanpa usaha untuk memiliki. Orang seperti itu layak menyandang gelar “Kaum Mendang-Mending”.

Selalu bersikap mendang-mending dengan sesuatu milik orang lain hanya akan membuatmu iri dan frustasi jika tanpa melakukan tindakan. Sekarang lihat kembali dirimu dan kenali kebenaran yang sebenarnya. Dengan begitu, kamu akan lebih tahu bahwa kamu tidak seperti yang diharapkan.

Next. Pernah nggak sih kamu bercerita tentang pengalaman buruk, tetapi malah bikin orang lain merasa tersaingi seperti pada “Kasus 2”? Aku yakin pasti pernah. Rasanya sangat menyebalkan, bukan? Orang-orang dengan seenaknya memendang-mendingkan masalahnya dengan masalah kita.

Pola pikirnya adalah masalah orang lain harus lebih mendingan daripada masalahku. Kenapa kalau masalah kita lebih buruk itu harus dibanding-bandingkan dengan masalah orang lain? Apakah karena lidahnya kegatelan, sehingga kalau tidak cerita masalahnya nanti menyesal?

Begini, orang yang sedang ngeluh itu didengarkan saja, mereka tidak butuh cerita balik darimu karena kamu lebih menderita. Apa iya, ada orang yang tidak kesal sama perlakuan mendang-mending “masalahku lebih berat”?

Tentu saja aku tidak tahu. Tetapi, aku yakin di luar sana banyak orang yang tidak suka masalahnya dimendang-mendingkan oleh orang lain. Bukannya terhibur karena masalah kita masih mendingan, tetapi malah bikin kita mau nonjok muka kaum mendang-mending.

Kalau ada piala atau medali khusus untuk pemenang masalah ini, dengan senang hati aku akan mengusulkan setiap kaum mendang-mending sebagai juaranya, entah itu divisi kesombongan atau masalah terburuk.

Jika masih semangat dengan pendirian mendang-mending, ya sudah terserah, itu hakmu. Tetapi ingatlah wahai kaum mendang-mending, memendang-mendingkan sesuatu itu tidak baik kalau yang dimendang-mendingkan itu tidak layak untuk dimendang-mendingkan.

Sedikit saran tidak penting: Jika terserang kaum mendang-mending, alangkah baiknya segera pergi ke toko beli es krim dinding sama orang lewat kode 001. Karena es krim itu dingin, kita bisa menggunakannya untuk mendinginkan kepala.

Baca juga: (Menghujat dengan Sedikit Tata Krama dan Iri Bilang Bos? Maaf, Tidak Ada yang Iri Kepadamu)

 

Mending Tidur daripada Mendang-Mendingkan! Upss..

Catatan: Di sini tidak bermaksud mengatur kehidupanmu, tetapi aku hanya bersikap satire atau ironi atau sarkas, ya? Aku tidak paham perbedaannya. Intinya, mengatur itu bukan tujuanku. Tujuanku hanya menyindir kaum mendang-mending.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *