Tidak Ada yang Acak, Semua Didesain Oleh

tidak ada yang acak

Opolah~ Apakah Sang Pencipta itu ada? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit sekali untuk dijawab dan membuat beberapa dari kita memilih untuk menghindarinya. Bagi yang mempercayainya, keberadaan Sang Pencipta memang benar-benar ada dan sangat berpengaruh.

Bagi yang tidak mempercayainya, keberadaannya hanyalah sekedar imajinasi. Yang tidak percaya akan keberadaan Sang Pencipta disebut dengan ateis. Nah, yang masih memeluk ajaran ateisme inilah yang akan di-roasting dengan sedikit lembut.

Agama apapun yang berada di muka Bumi mengakui adanya Sang Pencipta, yang mereka sembah dan puja dengan cara mereka masing-masing. Sang Pencipta menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan memiliki kuasa terhadap segala ciptaan-Nya.

Agama dan keimanan sudah masuk dalam ranah pribadi setiap pemeluknya. Di sini aku tidak akan membahas keberadaan Sang Pencipta dengan memakai dogma-dogma agama. Karena agama sangat sensitif untuk dilibatkan, dikhawatirkan dapat menyinggung.

Aku ingin melihatnya dari pandangan ilmu pengetahuan dan hal-hal sederhana. Sang Pencipta memang tidak dapat diteliti keberadaan fisiknya. Tetapi, segala ciptaan-Nya dapat membuktikan bagaimana sesungguhnya Sang Pencipta itu.

Di konteks ini, aku akan menjelaskan mengapa “keacakan” itu tidak pernah ada. Di balik sesuatu apapun itu pasti ada yang merancang atau mendesainnya. Apalagi alam semesta yang luar biasa luas nan kompleks ini, jelas tidak mungkin alam semesta muncul begitu saja.

Sebelum melanjutkan, dimohon kebijakannya dalam menyikapi tulisan ini!

Ok, kita mulai dengan hal sederhana. Bayangkan dua contoh susunan huruf ini. Yang pertama: tpaiqkg jgvbfag yhnkl phcsjkl. Yang kedua: Pesawat ternyata dapat terbang. Dua susunan huruf tersebut mirip dalam segi jumlah huruf.

Perbedaan dari kedua susunan huruf tersebut adalah yang pertama merupakan susunan acak dan tidak mengandung informasi apapun, namun yang kedua merupakan sebuah susunan yang terstruktur dan mengandung sebuah informasi.

Untuk menciptakan susunan huruf yang pertama tidak membutuhkan orang yang mengerti huruf. Hanya butuh seseorang buta huruf untuk mengetiknya secara asal, maka akan muncul susunan yang acak seperti pada susunan yang pertama.

Tetapi, susunan huruf yang kedua tidak mungkin ada kalau tidak diketik oleh seorang yang mengerti huruf dan mengerti bahasa Indonesia. Susuanan huruf kedua ini tidak mungkin bisa ada jika diketik oleh orang yang buta huruf.

Coba kamu suruh orang buta huruf untuk mengetik kalimat yang berisi informasi. Ratusan kali pun orang yang buta huruf tersebut tidak akan bisa melakukannya. Hal ini dikarenakan susunan kalimat adalah informasi, dan informasi tidak akan ada tanpa adanya aktor “yang mengerti”.

Sekarang kita ambil dan amati sandal jepit. Sandal jepit adalah sandal berwarna-warni dari karet. Benda ini mempunyai bentuk yang sederhana. Bagian-bagian dari sandal jepit hanya berupa tali berbentuk huruf “Y” dan alas yang rata membentuk kaki. Walaupun bentuknya simpel, pembuatan dari sandal jepit lumayan ribet.

Mulai dari pemotongan material yang membutuhkan waktu cukup lama. Proses ini juga memerlkuan tempat yang luas agar tidak mengganggu proses lain. Setelah proses ini, material dibawa ke tempat lain untuk didesain.

Dalam mendesain sandal jepit harus memperhatikan desain sandal yang sedamg disukai oleh orang-orang dan sesuai dengan permintaan pasar, serta sesuai dengan keingan konsumen. Setelah selesai mendesain, dilanjutkanlah ke proses penyablonan.

Tahapan selanjutnya yaitu pemotongan material tadi sesuai dengan pola dan ukuran. Dari ukuran medium, l, atau xl. Selanjutnya, material yang sudah di potong digabungkan dengan alas bawah yang dibuat garis-garis agar tidak terpeleset ketika dipakai di jalan yang licin.

Kemudian dilanjutkan dengan proses pelubangan. Proses ini menggunakan alat khusus. Sandal jpit dilubangi sebanyak tiga buah, yaitu satu lubang di depan dan dua lubang lagi di bagian tengah berdampingan kiri kanan. Setelah itu, baru setiap sandal dipasangi tali yang berbentuk huruf “Y”.

Dari sepasang sandal jepit kita sudah tahu bahwa sebuah benda pasti ada yang mendesain dan membuatnya. Juga tidak setiap orang dapat membuat sandal jepit yang nyaman dipakai. Dan yang pasti sandal jepit tidak mungkin muncul begitu saja secara acak.

Kita lanjutkan ke sesuatu yang lebih rumit, DNA. Sains menjelaskan kemunculan kehidupan yang disebut sebagai teori evolusi. Disebutkan bahwa segala macam kehidupan yang ada muncul karena proses evolusi selama jutaan tahun.

Semua kehidupan lahir melalui proses mutasi dan variasi yang bersifat acak. Semuanya lahir karena kebetulan saja. Tetapi, apakah hal tersebut dapat terjadi? Mengingat sandal saja ada yang menciptakan, apalagi kehidupan.

Selama beberapa tahun, seorang British philosopher (ahli fisuf Inggris), Dr. Antony Flew, telah menjadi seorang pembicara di kalangan orang ateis, dan selalu aktif dalam debat-debat untuk mempertahankan ateisme.

Akan tetapi, penemuan ilmu pengetahuan dalam 30 tahun terakhir membawanya kepada sebuah kesimpulan yang tidak dapat ia tolak lagi. Penemuan-penemuan ilmiah yang banyak sekali justru menunjuk arah kepada kenyataan tentang keberadaan Sang Pencipta.

Dalam sebuah video wawancara pada bulan Desember 2004, dia menyatakan, “Inteligen yang tinggi menjadi satu-satunya penjelasan yang baik bagi asal mula kehidupan dan komplesitas alam.” Kesipulannya yang paling menonjol adalah penemuan dan penelitian DNA.

DNA dalam sel-sel tubuh kita sangat mirip dengan sebuah kode program komputer yang rumit. Kode program komputer itu dibentuk dari adanya runtutan dan rentetan angak 1 dan 0, atau dikenal dengan kode biner (binary code).

Rangkaian dan susunan dari angka-angka 1 dan 0 (contoh: 01100001011010110111010101100001 0111001101110101), tersebut yang membuat kode program komputer bekerja dengan baik dan bekerja dengan tepat. Juga membuatnya menjadi sempurna.

Dalam cara yang sama, DNA dalam sel kita dibuat. DNA dibentuk dari empat senyawa kimia, disingkat dengan huruf A, T, G, dan C. Miriplah funngsinya dengan 1 dan 0 tadi. Rangkaian huruf-huruf ini dirancang dan ditempatkan dalam sel di tubuh manusia (contoh: CGAGTACGTACGATATAC)

Aktifitas sel-sel di tubuh kita sangat bergantung pada kode-kode unik ini. Namun, kenyataan yang lebih mencengankan adalah dalam ruang yang sangat sangat kecil di setiap sel dalam tubuh kita terdapat “kode-kode kehidupan” yang panjangnya sampai tiga miliar huruf.

DNA melakukan koding dengan sangat cepat, ini karena semua prosesnya dilakukan secara bersamaan. Bandingkan dengan cara kerja komputer yang linear. Ukuran molekul DNA yang sangat kecil ternyata memiliki kapasitas kerja yang begitu besar.

Sebagai perbandingan, satu gram DNA yang sudah dikeringkan memiliki kapasitas penyimpanan informasi dalam jumlah yang sama dengan satu triliun Compact Disk. Satu gram DNA kering tersebut hanya memiliki ukuran sebesar sebutir garam.

Sebagai perbangingan lagi, tubuh manusia memiliki sekitar 100 triliun sel, dan di dalam inti setiap sel terdapat 23 pasang kromosom yang disusun oleh tiga miliar asam nukleat. Jika DNA di seluruh tubuh seorang manusia direntangkan, panjangnya lebih dari 600 kali jarak Bumi ke Matahari.

99% DNA milikmu sama persis dengan DNA milik manusia lainnya. Hanya 1% sisanya yang menjadi pembeda dan menjadikan tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang sama persis. Hal ini menjadikan setiap manusia unik.

Kode DNA mengidentifikasi setiap orang dan tentunya akan secara terus menerus memberikan perintah terhadap perilaku sel di tubuh. DNA jelas-jelas dirancang dan ditempatkan dalam sel tubuh kita yang sangat kecil oleh Sang Pencipta secara sengaja.

Dr. Fracis Collins, seorang direktur yang memetakan struktur DNA manusia, mengatakan bahwa DNA bisa dibilang semacam “skenario yang memberikan pelajaran, sebuah program software, yang ada dalam sel tubuh.”

Perry Marshall, seorang spesialis informatika, berpendapat terhadap masalah ini. “Tidak pernah ada suatu program komputer yang tidak didesain (apapun itu) dengan sebuah kode, atau suatu program, atau suatu pesan yang diberikan melalui suatu bahasa. Selalu ada suatu aktor cerdas di belakangnya.”

Si mantan ateis tadi, Dr. Antony Flew juga pernah bertanya, “Siapa sih yang menulis kode ini? Siapa sih yang menaruh kode yang bekerja ini di dalam sel?” Dan ia menyimpulkan bahwa, “Sangat merendahkan hati bagi saya dan sangat menginspirasi untuk menyadari bahwa kami telah melihat sekilas dari buku petunjuk, yang sebelumnya hanya diketahui oleh Sang Pencipta.”

Struktur DNA dan keberadaan DNA dalam setiap sel di tubuh manusia adalah manifestasi keberadaan Sang Pencipta. Secara ilmiah, para ilmuwan tidak berani menolak kenyataan bahwa ada aktor sangat luar biasa cerdas yang menciptakan DNA.

Sekarang kita loncat ke luar Bumi. Beberapa astronom percaya bahwa salah satu alasan Bumi dapat dihuni kehidupan seperti sekarang ini disebabkan oleh gravitsi Jupiter yang membantu melindungi planet kita dari objek-objek luar angkasa yang bisa menabrak Bumi kapan saja.

Salah satu objek luar angkasa yang berbahaya adalah komet berperiode panjang, yaitu komet yang jalur orbitnya sangat lonjong dalam mengelilingi Matahari. Lonjongnya orbit komet jenis ini membuat mereka kadang berpotongan langsung dengan orbit Bumi.

Menurut UniverseToday.com, berkat adanya Jupiter, pengaruh gravitasinya yang besar mampu menendang sebagian besar bola-bola es kotor yang bergerak cepat ini keluar dari tata surya sebelum mereka bisa mendekati Bumi.

Dengan begitu, komet berperiode panjang hanya akan benar-benar menyerang Bumi dalam rentang waktu yang sangat panjang, bisa sampai jutaan hingga puluhan juta tahun sekali. Tanpa Jupiter, komet-komet ini kemungkinan akan sering “berciuman” dengan planet kita.

Pada tahun 1994, ada sebuah komet berperiode panjang yang menabrak Jupiter. Komet ini bernama Shoemaker-Levy 9. Menabraknya komet tersebut ke Jupiter membuat terbentuknya bekas luka gelap di salah satu bagian planet raksasa ini.

Mungkin, kalau tidak ada Jupiter, kita semua tidak akan pernah membaca artikel ini, karena si komet bisa saja menabrak Bumi. Dan bisa diperkirakan kejadian yang menimpa Mitsuha dan penduduk sekitar Itomori benar-benar terjadi di dunia nyata.

Pertanyaannya adalah, “Kenapa letaknya sangat pas disitu sih?”, dan “Apakah Jupiter memang diberikan tugas untuk melindungi Bumi?”, “Siapa yang meletakan planet gas raksasa tersebut?”. Hal ini tidak dapat dijelaskan. Pastinya ada yang mendesain sedemikian rupa.

Terakhir. Dalam teori yang menyangkut pertikel Higgs Boson atau “Partikel Tuhan”, tidak pernah bisa dijelaskan bagaimana benda apapun termasuk alam semesta mendapatkan massa mereka. Tanpa adanya massa, alam semesta tidak akan pernah ada.

Big Bang seharusnya memproduksi jumlah yang sama antara matter dan antimatter, dan jika tidak semesta akan hancur. Namun, jumlah matter justru lebih banyak dan alam semesta tercipta. Hal ini sialnya juga tidak dapat dijelaskan.

Dan apakah beberapa hal di atas tersebut dapat tercipta karena ketidaksengajaan atau acak muncul begitu saja? Jawabannya adalah tidak, tidak peduli berapa triliun tahun diperlukan. Semua hal apapun itu pasti ada aktor pintar dibaliknya yang mendesain, membuat, dan menerbitkan.

Baca juga: (Dimana Bumi Berada? Inilah Alamat Lengkap Bumi Kita di Alam Semesta)

 

Der Herr Gott Werfell Nicht!

Referensi: mahasiswakeren.com, infoastronomy.org

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *